Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Deklarasi Roma Serukan Pelihara Kemajemukan sebagai Anugerah

Peserta Dialog Antaragama Masyarakat Indonesia di rantau Eropa, di Rhoma,Italia, sedang berfoto bersama. (Foto: laman Kemenag)

Inti dari deklarasi itu adalah kita harus bersama-sama memelihara, menjaga dan mengembangkan kemajemukan sebagai anugerahNya.

JAKARTA-KABARE.ID :  Patut diapresiasi upaya 47 orang perwakilan diaspora Indonesia dari 23 negara di Eropa yang telah mengumandangkan Deklarasi Roma, di Roma, Italia, Minggu (1/7/2018) waktu setempat, atau Senin (2/7/2018) dini hari waktu Indonesia bagian Barat.

Deklarasi yang terdiri dari 8 butir penting tersebut merupakan hasil Dialog Antaragama Masyarakat Indonesia di rantau Eropa,  yang digelar oleh Kedutaan Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, 30 Juni-3 Juli 2018. Hadir pada kesempatan itu Dubes RI untuk Takhta Vatikan Agus Sriyono, juga tokoh-tokoh lintas agama diantaranya Prof Dien Samsudin, Sekjen Kemenag Nur Syam, Pewakilan Wali Umat Buddha Indonesia Philip K.Wijaya, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja diIndonesia Pendeta Henriette T. Hutabarat-Lebang, Ayang Utriza Yakin, tokoh muda Nahdhlatul Ulama sebagai pembaca deklarasi.

Sekjen Kemenag Nur Syam menjelaskan tujuan final dari kerukunan umat beragama ialah untuk menjamin keberlangsungan konsensus bangsa, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebhinekaan. "Makanya diperlukan upaya terus menerus untuk merevitalisasi konsensus kebangsaan tersebut di dalam kehidupan nyata, yang sehari-hari, agar ke depan tercipta masyarakat Indonesia yang adil dalam kemakmuran dan makmur di dalam keadilan", ujarnya dikutip dari laman Kemenag.

Adapun bunyi Deklarasi Roma tersebut,  secara lengkap sebagai berikut :

1. Kemajemukan agama, suku, dan bahasa adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat Indonesia dan keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga dan dikembangkan bersama.

2. Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah rumah bersama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus dirawat bersama.

3. Tenggang rasa dalam kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama, karena kerukunan hidup umat beragama di Indonesia menjadi rujukan dan contoh bagi dunia internasional.

4. Kesungguhan hati dan keterbukaan sikap dalam sikap kebersamaan, gotong royong, saling pengertian, penghargaan, dan persaudaraan dari pemerintah dan semua anak bangsa hendaknya dirawat dan dipelihara secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Masyarakat Indonesia agar tidak menggunakan agama dan simbol keagamaan demi kekuasaan politik.

6. Semua umat beragama agar mampu menampilkan wajahnya yang ramah dan terbuka dalam semangat persaudaraan dalam keimanan, kemanusiaan dan keindonesiaan.

7. Seluruh anak bangsa Indonesia, kendati berbeda agama, akan tetapi terikat dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air, karena semua berasal dari satu Rahim Ibu Pertiwi Indonesia.

8. Semua masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia perlu meningkatkan dialog antaragama dan bekerjasama yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Berbagi Pengalaman Mengelola Keberagaman

Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid (tengah) saat berbicara mempromosikan nilai-nilai keberagaman. (Foto: laman KBRI Vatikan)

 

Tidak kali ini saja KBRI Vatikan mengangkat kemajemukan atau keberagaman. Tahun lalu juga telah menggelar Interfaith Dialogue, berbagi pengalaman dalam mengelola keberagaman Indonesia, dalam rangka mempromosikan nilai-nilai keberagaman Indonesia

Dikutip dari laman KBRI Vatikan, salah satu pembicara  Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menekankan bahwa dalam mengelola keberagaman agama, Indonesia memiliki tantangan sekaligus solusi untuk meredam konflik antar agama, yakni Pancasila sebagai dasar negara yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dan TLC (tolerance, leadership, constitution). Dengan adanya toleransi antarumat beragama, kepemimpinan yang baik dari pejabat pemerintah hingga lapisan bawah dan peraturan yang menjamin kebebasan beragama, masyarakat Indonesia akan hidup dalam harmoni. Meskipun demikian, tentu saja Indonesia tidak imun terhadap aksi intoleransi seperti yang dihadapi oleh negara lainnya di Eropa atau Amerika Serikat. (ysh)

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post