Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Dedengkot Teater Koma N.Riantiarno Menerima Penghargaan

Nano Riantiarno bersama Ratna Riantiarno. (Foto: kabare.id/ysh)

Pekan Teater Nasional 2018, dibuka dengan memberikan penghargaan kepada dedengkot Teater Koma N.Riantiarno, sebagai peletak pondasi teater sebagai industri.

JAKARTA-KABARE.ID : Temu Teater Indonesia "Pekan Teater Nasional 2018, yang juga disebut Sihir Teater Indonesia 15 kota, diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), pada 6-14 Oktober 2018 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM).

Membuka acara ini, ditandai dengan pemberian penghargaan kepada dedengkot Teater Koma Norbertus (Nano) Riantiarno, yang dikenal luas sebagai aktor, penulis, sutradara, dan wartawan. Penghargaan ini melengkapi beberapa penghargaan yang pernah diterima sebelumnya. Bersama istrinya Ratna Riantiarno dan kawan-kawannya, tahun 1977 ia mendirikan Teater Koma, kemudian dirawat dengan landasan Kode Etik Teater Koma, sampai sekarang. Kode Etik itu mengatur Etika, Kesetiaan dan Guyub.

Kode Etik Teater Koma yang menjadi acuan bersama. (Foto: kabare.id/ysh)

 

Di mata Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, ketika di Indonesia teater belum tumbuh menjadi industri, Nano boleh jadi menyediakan pondasi untuk itu. "Dengan segala keterbatasannya, Nano mampu Teater Koma ke sebuah etos profesionalitas yang memperlihatkan kita bahwa sebuah masyarakat teater yang sehat seharusnya memiliki sebuah teater yang mampu hidup dari penjualan tiket penonton serta mendatangkan sponsor swasta," tandasnya.

Tapi Nano bukan orang yang suka menyalahkan pihak lain. Seperti dikutip dan dijadikan pertimbangan kuratorial Seno Joko Suyono dalam tulisannya berjudul "Teater dan Masyarakat : Sebuah Award untuk Nano, " lulusan ATNI kelahiran Cirebon, 6 Juni 1949 menyatakan, "Teater tidak boleh terpencil dari masyarakat. Teater harus menjalin komunikasi dengan masyarakat. Berteater bukan hanya untuk para kritikus saja tapi untuk masyarakat. Jika apa yang disajikan teater tidak dimengerti oleh masyarakat, jangan masyarakat yang disalahkan, tapi teater yang hendaknya retrospeksi."

Pandangan Nano tersebut, bagi Himar maupun Seno, merupakan peringatan yang sangat berharga, dan tetap relevan sampai kapanpun. Bagi Nano hubungan teater dan masyarakat seesensial hubungan ikan dan laut. Teater adalah ikan yang tak akan bisa bernafas tanpa kehadiran laut, dalam hal ini masyarakat.

Legenda hidup

Pemain kelompok Teater Koma beraksi pada pagelaran berjudul ''Opera Kecoa'' di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Antara Foto/Muhammad Adimaja)

 

Bagi cendekia teater Benny Johanes, Nano adalah living legend teater Indonesia. Jika Rendra peletak teater modern Indonesia, Arifin C.Noer, Putu Wijaya dan Teguh Karya pembuka wilayah-wilayah alternatif, maka posisi Nano yang ada di lapis ketiga tokoh teater Indonesia, sangat memperhatikan kesinambungan produksi. Sejak pergelaran perdana Rumah Kertas (1977) , sampai sekarang Mahabarata (November mendatang) merupakan produksi ke-155. Setiap tahun rutin dua kali. Hanya Teater Koma di Indonesia yang mampu pentas sebulan berturut-lurut, dengan penonton yang memadai.

Di depan para sutradara dari 15 kota yang hendak berlaga pada Pekan Teater Nasional 2018, Nano didampingi Ratna Riantiarno, membuka rahasia dapurnya. Lakon dan bentuk pemanggungan Teater Koma, katanya, paduan antara teater tradisi dan teater Barat. Dan meskipun sebagai suami istri, baik Nano maupun Ratna saat produksi harus profesional. Kalau Ratna pengin ikut main, misalnya, harus ikut audisi seperti yang lain. Sebagai sutradara jika menginginkan set tertentu, misalnya, apalagi dengan biaya mahal, harus paparan di depan Ratna. Sementara itu para anggota Teater Koma, yang dulu 12 kini berkembang sampai 50 orang, semuanya harus berpegang teguh pada Kode Etik Teater Koma. "Kode etik itulah yang menyelamatkan Teater Koma hingga kini," tutur Nano yang diamini Ratna.

Nano Riantiarno foto bersama panitia dan peserta Pekan Teater Nasional 2018. (Foto : Kabare.id/ysh)

 

Lakon-lakon Teater Koma yang sangat populer di tengah masyarakat antara lain "Sampek Engtay", "Opera Ikan Asin" dan "Opera Kecoa". Di masa Orde Baru yang represif, "Opera Kecoa" kena cekal, bukan karena bohong, melainkan penguasa tersinggung dan merasa terancam. Ketika Orde Baru runtuh, justru Nano limbung sejenak karena kehilangan musuh kreatifnya. Akan tetapi, pelan-pelan kreativitasnya mengalir kembali. "Sampai pada lakon "Gemintang" saya masih bernafsu mengkritik, tapi pada "Mahabarata" nanti, saya sudah melepaskan diri dari kritik," ucapnya kepada kabare.id yang perlu dibuktikan.

Nano Riantiarno foto bersama para peserta Pekan Teater Nasional 2018. (Foto : Kabare.id/ysh)

 

Sutradara-sutradara muda yang tampil dalam Pekan Teater Nasional 2018 kali ini, tidak mengacu pada idola-idola asing ataupun Jakarta. Mereka berusaha menampilkan karakternya masing-masing, berbasis lokalitas dan riset. Antara lain dari Sumenep, Makassar, Lampung, Padang Panjang dan Jakarta. Selain pertunjukan, pekan teater ini dilengkapi diskusi dan pameran arsip.

 

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

KOMENTAR

Popular Post