Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

D.Djajakusuma Memandang Film dan Seni Tradisi

Rektor IKJ, Seno Gumira Ajidarma dalam acara peluncuran buku “D.Djajakusuma: Memandang Film & Seni Tradisi”, di Kampus IKJ, Kamis (12/7/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Buku D.Djajakusuma: Memandang Film dan Seni Tradisi ini merangkum catatan dari berbagai sumber dengan fokus biografi Djajakusuma sebagai seniman di dunia seni tradisi (wayang kulit, lenong, teater rakyat Betawi, dll) dan di dunia seni modern (film).

JAKARTA-KABARE.ID: Jika ditanya siapa tokoh pelopor atau bapak perfilman Indonesia, publik pasti sepakat menjawab: Usmar Ismail.

Namun, Rektor Institut Kesenian Indonesia (IKJ), Seno Gumira Ajidarma punya pandangan lain. Menurutnya ada dua tokoh yang berperan besar dalam perkembangan film di Indonesia. Pertama, Usmar dengan perannya di komunitas dan pergerakan film. Kedua, Djadoeg Djajakusuma yang bermain di belakang layar pada konsep film budaya dan tradisi.

“Saat membuat film tentang silat misalnya, Djajakusuma tidak hanya menampilkan adegan perkelahian, tetapi juga tradisi silat,” ujarnya dalam acara peluncuran buku "D.Djajakusuma: Memandang Film & Seni Tradisi", di Kampus IKJ, Kamis (12/7/2018).

Buku “D.Djajakusuma: Memandang Film & Seni Tradisi”. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Buku "D.Djajakusuma: Memandang Film & Seni Tradisi", ditulis oleh Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, M. Ariansah, dan Kusen Dony Hermansyah.

Seno menyoroti sosok budayawan dari Djajakusuma dalam perfilman Indonesia, dilengkapi dengan ulasan Ariansah dan Dony Hermansyah yang menegaskan kepengarangan film-film Djajakusuma dari tinjauan estetik maupun penyuntingannya.

Sedangkan sastrawan Putu Wijaya menjelaskan Djajakusuma sebagai pahlawan seni tradisi, berikut pengakuan-pengakuan Djajakusuma sendiri dalam berbagai wawancara, serta tulisan-tulisan pribadinya tentang kisah pewayangan.

"Djajakusuma adalah pendekar seni tradisi. Dia punya keberanian melakukan hal yang berbeda, seperti menampilkan Malin Kundang yang tidak jahat,” ujar Putu Wijaya.

Kendati berbeda dengan sumber atau referensi yang umum, Putu menilai, selayaknya kita melihat sebuah referensi dengan cara setara.

“Sudah saatnya kita ajak anak muda mengenal tokoh sejarah penting, yang pikirannya sudah melewati zaman,” ujar Putu Wijaya. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post