Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Dali, Kuliner Unik Khas Tapanuli

Dali/bagot ni horbo kuliner khas Batak. Sumber foto: K/Dedy Hutajulu

Dali atau bagot ni horbo adalah air susu kerbau yang diolah secara tradisional. Kuliner ini adalah salah satu makanan khas batak dari daerah Tapanuli.

JAKARTA – KABARE.ID: Menurut cerita lisan, tradisi mengolah susu kerbau menjadi dali sudah dimulai oleh leluhur orang batak semenjak adanya komunitas batak. Belasan tahun lalu, hampir di setiap rumah makan khas batak, kuliner ini menjadi menu utama. Bahkan setiap pasar di daerah Tapanuli, dali menjadi komoditas dagangan. Sayangnya, hari-hari ini sulit sekali menemukan dali, seiring jumlah peternak kerbau di daerah Tapanuli dan Toba semakin menurun.

Kandungan gizi pada dali secara umum, tidak berbeda dengan susu lainnya. Dali juga mengandung lemak, karbohidrat, dan protein. Bedanya, hanya terletak pada cara pengolahannya. Jika susu sapi cenderung diolah dengan mesin, dali atau bagot justru diperas secara alami dan diolah dengan sederhana tanpa menggunakan unsur kimia.

"Induk kerbau baru bisa diperah ketika bayinya sudah berumur satu bulan. Supaya, bayi kerbau tidak kekurangan gizi, karena si bayi kerbau masih mengandalkan air susu induknya," terang Diana Manalu (38), warga Sipoholon penjual dali, sebagaimana dikutip dari Indonesia.go.id, Jumat (2/1/2020).

Menurut Diana, meskipun puting susu kerbau ada empat, tapi sebaiknya, hanya satu yang diperah untuk diambil susunya. Sisanya adalah hak milik si bayi kerbau. "Jika kerbaunya sehat dan gemuk, produksi susunya bisa mencapai 4 liter per hari, tetapi kita harus pertimbangkan untuk kebutuhan anak kerbau. Makanya, cukup seliter dua liter kita perah," timpalnya.

Baca juga: Sukun, “Buah Roti” yang Pernah Diburu Kerajaan Inggris

Proses pemerahan susu kerbau harus higienis dan sebisa mungkin induk kerbau merasa nyaman. “Kita bisa perah susunya selama maksimal lima bulan. Meski produksi susu berlangsung sampai delapan bulan, tetapi memasuki bulan keenam, kualitas susu tidak lagi layak untuk dikonsumsi," beber ibu lima anak ini yang mengaku sudah sedekade berjualan dali.

Diana menerangkan, cara mengolah dali sangat sederhana. Susu hasil perahan direbus sekitar 10 menit dalam wadah yang steril dengan menambahkan air nenas untuk membantu pengentalan susu serta mengurangi aroma amis. Bisa juga dicampur dengan air perasan daun pepaya.

Setelah sepuluh menit, dali sudah siap untuk disajikan dan langsung bisa disantap. Tampilannya seperti tahu, tetapi punya aroma susu yang kuat dan lezat.

Baca juga: Dayok Nabinatur, Kuliner Khas Simalungun yang Kaya Filosofi

Diana menuturkan, sampai hari ini pangsa pasar penikmat dali di Tapanuli cukup besar. Tingginya permintaan dali itulah yang menjadi sumber rezeki baginya untuk bisa menafkahi keluarganya, sejak suaminya meninggal. "Semua anak-anak saya bisa sekolah sampai tamat SMA. Ya, berkat jualan dali ini," ujarnya.

Dali yang dijual Diana bersumber dari empat ekor ternak kerbaunya. Ia hanya berjualan dali jika induk-induk kerbaunya melahirkan. Menurut data BPS, populasi kerbau selama kurun waktu sepuluh tahun (2006-2016), menurun drastis dari 261.794 ekor menjadi 113.422 ekor.

Penurunan itu salah satunya disebabkan, makin menyempitnya lahan persawahan sekaligus savana sebagai ladang penggembalaan kerbau. Sebagai dampaknya, jumlah produksi dali pun makin berkurang.

Umumnya kerbau diperuntukkan untuk diambil dagingnya atau khusus disiapkan memenuhi kebutuhan daging pada perhelatan pesta adat Batak. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post