Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Cuci Parigi Pusaka, Ritual Adat yang Digelar Setiap 10 Tahun Sekali

Ritual adat Cuci Parigi Pusaka di Negeri Lonthoir Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah adalah momen langka, karena digelar setiap 10 tahun sekali. (Foto: Kemenpar)

Ritual adat Cuci Parigi Pusaka di Negeri Lonthoir Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah berhasil menarik belasan ribu pengunjung di Pesta Rakyat Banda 2018. Ritual adat ini adalah momen langka, karena digelar setiap 10 tahun sekali.

BANDA - KABARE.ID: Ritual cuci parigi atau dalam bahasa setempat sumur pusaka ini dibuka Gubernur Maluku Said Assagaff. Diawali dengan ritual mengarak belang darat oleh 99 pria dan tarian cakalele dari rumah adat Lonthoir ke parigi pusaka. Para pria inilah yang akan membersihkan parigi pusaka itu.

Ketua Panitia Cuci Parigi Pusaka, Hidayat Yusuf mengungkapkan, selain untuk membersihkan parigi, tradisi ini dimaknai untuk penyucian diri dan negeri.

“Cuci parigi pusaka ini digelar setiap 10 tahun sekali. Tujuannya tentu untuk membersihkan parigi dan juga mensucikan warga dan negeri dari kotoran,” kata Hidayat dalam keterangan resmi yang dikutip Kabare.id, Rabu (21/11/2018).


Dia menjelaskan, Cuci Parigi Pusaka juga menjadi ajang merawat persaudaraan, karena melibatkan warga lainnya terutama warga Kampung Baru dan marga Silawane dari Tehoru, Maluku Tengah. Selain itu, di momen ini warga Banda di rantau pulang kampung untuk menyaksikan tradisi kolosal ini.

Konon air parigi pusaka ini tidak pernah kering meski musim kemarau berkepanjangan. Air parigi juga dipercaya dapat mendatangkan kesehatan jika diminum, meskipun tanpa dimasak. Bahkan menurut warga, rasa air dari parigi pusaka ini sama seperti air zam zam dari Tanah Suci Mekkah.


Usai ritual mengarak belang darat, pemuda dari 9 So (suku) langsung membersihkan air di dalam parigi. Dengan diiringi musik kabata, menggunakan bahasa adat dan irama tifa, proses membuang air dari dalam parigi berlangsung sekitar 2 jam.

Di tengah proses membuang air, puluhan pria dan wanita penari cakalele asal Negeri Kampung Baru, gandong atau adik Negeri Lonthoir masuk ke areal parigi. Mereka juga ikut bersama cuci parigi pusaka.

Dalam prosesi ini, nampak banyak orang menyiram dan menggosok wajah dan tubuhnya dengan air dari perigi. “Air ini jadi rebutan warga, ada yang buat disiram langsung atau dibawa pulang dan menyiram tubuh keluarga yang di rumah," terang Hidayat.


Usai parigi dikeringkan, pasukan cakalele kemudian menjemput kain gajah dari rumah adat. Kain gajah dengan panjang 99 meter itu diantar ke Parigi Pusaka. Kain gajah berwarna putih digunakan untuk membilas air di parigi hingga kering. Selama prosesnya, diiringi dengan tarian Siamali Negeri Lonthoir dan melantunkan kabata, bahasa tanah.

Kain gajah kemudian dibawa puluhan wanita ke pantai Negeri Lonthoir untuk dibersihkan lagi di pantai. Prosesi cuci parigi ini berlangsung di saat air laut surut. Tujuannya, agar saat air pasang, air di parigi pun kembali banyak lagi.



Hidayat menceritakan, Cuci Parigi Pusaka Lonthoir tujuannya mengingatkan warga akan penyebaran Islam di Lonthoir. Kala itu, sejumlah ulama penyebar Islam dari Timur Tengah kesulitan mencari air untuk berwudhu. Tiba-tiba, seekor kuncing muncul dari semak-semak.

"Di tempat kemunculan kuncing itulah ternyata ada sumber mata air yang kemudian menjadi parigi pusaka ini. Dulu di sini tidak ada mata air. Parigi ini berada di ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut," ungkapnya.

Selain Parigi Pusaka, Banda Neira juga terkenal dengan situs sejarah yang dapat dikunjungi wisatawan, seperti Benteng Belgica, rumah pengasingan pemimpin kemerdekaan revolusioner, Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir.

"Kepulauan Banda juga terkenal dengan tempat diving dan snorkeling-nya, berkat air yang jernih, kehidupan laut yang melimpah dan terumbu karang yang indah," papar Menteri Pariwisata, Arief Yahya. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post