Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Cuaca Buruk, Nelayan Beralih Profesi, Ada yang Memilih Jadi Tukang Bangunan

Akibat musim paceklik karena ketiadaan hasil laut yang berlangsung cukup lama, para nelayan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih beralih profesi. Beberapa diantaranya bekerja serobotan tidak menentu sambil menunggu musim membaik.

Kupang - Cuaca buruk yang menimpa beberapa perairan di Indonesia menyebabkan sejumlah nelayan beralih profesi akibat ketiadaan hasil laut yang berlangsung cukup lama. Beberapa diantaranya bekerja serobotan tidak menentu, ada yang jadi buruh bangunan, tukang, kondektur angkutan, sopir, dan lain-lain.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Maksi Effendi Ndun mengatakan para nelayan setempat tengah berhenti melaut akibat buruk. Diperkirakan kondisi ini akan berlangsung selama lima bulan dari Desember 2016 hingga April 2017.

“Hampir semua nelayan yang mangkal di beberapa titik Kota Kupang seperti Tenau, Oeba, sampai Lasiana, berhenti melaut akibat cuaca buruk di perairan tersebut. Hanya ada satu, dua, nelayan pancing dasar yang melaut,  itu pun di perairan dekat, di daerah selatan yang tidak terkena gelombang tinggi,” kata Effendi, di Kupang, Selasa (2/1).

Sementara Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi HNSI NTT Abdul Wahab Sidin menambahkan, musim paceklik karena cuaca buruk tersebut menyebabkan nelayan cakalang tidak bisa beroperasi.

"Nelayan cakalang saat ini istirahat total karena ketiadaan umpan dari kapal bagan yang saat ini juga sedang parkir karena cuaca tidak bersahabat,"paparnya.

Wahab menambahkan, akibat cuaca buruk tersebut para nelayan yang berbasis di Tenau hanya bertahan dengan berbagai aktivitas seperti membereskan pukat, memancing di sekitar perairan, bahkan ada pula beralih pekerjaan menjadi buruh.

Editor: Baskoro

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post