Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Cerita di Balik Revitalisasi Lapangan Banteng

Suasana proyek revitalisasi kompleks Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/4/2018). (merahputih.com)

Lapangan Banteng kini jauh dari kesan kelam dan tak terurus. Dulu kawasan ini punya citra yang kurang baik, mulai dipakai sebagai tempat nongkrong hingga kegiatan negatif lainnya.

JAKARTA-KABARE.ID: Yori Antar dari HAP Architects, adalah arsitek yang mendesain Lapangan Banteng dengan konsep zonasi. Ada tiga zona di sana, yakni zona Monumen Pembebasan Irian Barat, zona olahraga, dan zona taman.

"Zonasi ini dibuat berdasarkan fungsi-fungsi yang ada di sini, namun semuanya terintegrasi dengan mudah tanpa ada batasan. Intinya, kita ingin membuat Lapangan Banteng lebih megah lebih menonjol, tanpa mengurangi fungsinya," ucap Yori, seperti diberitakan Kompas.com, Jumat (27/7/2018).

"Kita tahu lah, dulu kawasan ini punya citra yang kurang baik, suka dipakai nongkrong dan kegiatan negatif lainnya. Kita harap, dengan pemugaran ini, bisa menghilangkan kesan itu (negatif) dari sini," ucap Yori.

Menurut dia, selain punya nilai sejarah, Lapangan Banteng punya nilai strategis. Setelah direvitalisasi, potensi sisi komersilnya diperkirakan bakal tinggi. Yori mengatakan, dengan wahana yang kini tersedia, semua kegiatan yang bersifat komersial bisa digelar di Lapangan Banteng.

"Hampir semua acara bisa dilakukan. Mulai untuk upacara, musik, sampai fashion show juga bisa, tinggal bagaimana nanti kepengurusannya saja. Kalau dari saya, saat ini potensi komerisal Lapangan Banteng cukup tinggi," ujar Yori.

Lapangan Banteng kini memang sangat berbeda dari sebelumnya. Proses revitalisasi tidak hanya sekadar merenovasi, namun dibuat berkonsep untuk mengintegrasi antara satu dan lainnya.

Awal mula revitalisasi

  Pekerjaan tahap akhir di lapangan bermain anak taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/3/2018). (Foto: Poskotanews.com)

 

Yori menceritakan awal mula revitalisasi Lapangan Banteng. Pada 2016 setelah selesai mengerjakan rancangan Taman Diponegoro Jakarta Pusat dan kawasan Kalijodo Jakarta Barat, dia kembali ditunjuk oleh Pemprov DKI pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mengerjakan proyek di Lapangan Banteng itu.

Dia ditunjuk langsung tanpa melalui mekanisme lelang, ini diperbolehkan karena proyek pembangunan di Lapangan Banteng tidak menggunakan duit APBD. Proyek itu menggunakan duit hasil Koefisien Lantai Bangunan (KLB) sebesar Rp8 milar dari salah seorang pemilik gedung.

"Memang duit Rp 8 miliar itu ditugaskan Dinas Pertamanan sebagai biaya untuk pagar yang mengelilingi lapangan olahraganya saja. Tapi kemudian saya tidak mau bila hanya merancang pagar, saya maunya merevitalisasi seluruh kawasan Lapangan Banteng," kata Yori kepada detikcom, Jumat (27/7/2018).

Keinginannya untuk merevitalisasi kawasan Lapangan Banteng kemudian disampaikannya ke Dinas Pertamanan DKI. Presentasinya bikin kaget jajaran Dinas, selanjutnya Yori diarahkan untuk presentasi langsung saja ke Gubernur Ahok.

"Waktu saya presentasi ke Bapak Gubernur Basuki, Pak Gubernur malah senang sekali. Dia akan mencarikan dana KLB-nya, karena dia tidak mau pakai APBD," kata Yori. Singkat cerita, didapatkanlah dana tambahan Rp 140 miliar dari satu perusahaan lewat mekanisme pembayaran kompensasi KLB.

Ada pula satu perusahaan restoran cepat saji yang bersedia menambah fasilitas taman bermain, membuat taman olahraga, merapikan rumput, serta melakukan penghijauan di kawasan Lapangan Banteng itu.

Sebelum memulai revitalisasi, Yori harus menjalani 13 kali sidang di depan Tim Sidang Pemugaran (TSP) Provinsi DKI yang diketuai Bambang Eryudhawan. Sidang-sidang ini berguna untuk memastikan revitalisasi tidak merusak sisi historis Lapangan Banteng.

"Mulai dari sidang soal bangunannya, soal lansekap, soal perletakannya, rumputnya tidak boleh sintetis, sampai soal teks di monumen itu. Itu semua membuat rancangan tambah sempurna," kata Yori.

Ahok cuti kampanye, Sumarsono masuk sebagai Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI. Peletakan batu pertama proyek revitalisasi kawasan Lapangan Banteng dilakukan oleh Sumarsono pada 17 Maret 2017. Namun pembangunan proyek belum bisa langsung dijalankan seketika itu juga, soalnya perlu ada perizinan dan prosedur yang harus dilengkapi terlebih dahulu.

Barulah di era Gubernur Djarot Saiful Hidayat, proses pembangunan dimulai, lanjut sampai era Gubernur Anies Baswedan. Peresmian Lapangan Banteng yang telah selesai direvitalisasi dilaksanakan pada Rabu (25/7/2018) lalu.

Sejarah Lapangan Banteng

Lapangan Banteng 1900-an. (Twitter/perpusnas)

 

Di balik wajah Lapangan Banten yang lebih modern, tersimpan sejarah yang mungkin belum diketahui banyak orang. Menurut catatan dari berbagai sumber, Lapangan Banteng sudah berganti nama hingga beberapa kali, seiring berganti kepemilikannya.

Sebelumnya, lapangan tersebut pernah bernama Paviljoensveld atau Lapangan Paviljoen pada 1632, sesuai nama pemiliknya, yakni Anthony Paviljoen. Pada era ini, lapangan tersebut disewakan menjadi lapak bercocok tanam orang Tiongkok, mulai dari sayur mayur hingga tebu. Sebagiannya lagi dijadikan lahan ternak sapi.

Fungsi Lapangan Banteng juga berubah pada masa kepemimpinan Gubernur VOC Herman William Daendels. Menilik buku "Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe" garapan Alwi Shahab, pada zaman Daendels, Lapangan Banteng kerap dijadikan area latihan militer, karena itu disebut sebagai Lapangan Parade.

Lapangan ini juga pernah bernama "Waterlooplein" atau lebih dikenal dengan sebutan Lapangan Singa. Dahulu di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran Waterloo, dengan patung singa di atasnya.

Pertempuran Waterloo merupakan perang terakhir Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte, pada 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo, sekitar 15 kilometer ke arah selatan Brussels, ibu kota Belgia. Napoleon kalah melawan pasukan sekutu Inggris, Belanda, dan Jerman. Sehingga, Lapangan Banteng pernah dijadikan monumen kebanggan pasukan sekutu yang sukses mengalahkan Napoleon.

Nama Lapangan Singa yang kental dengan nuansa kolonialisme dan simbol penjajahan lalu ditinggalkan, berubah menjadi Lapangan Banteng yang bertahan hingga saat ini. Tugu singa yang pernah ada di lapangan itu diruntuhkan saat Jepang menjajah Tanah Air.

Monumen Pembebasan Irian Barat

Monumen Pembebasan Irian Barat. (Foto: skygrapher.id/Arif Suparwono)

 

Monumen Pembebasan Irian Barat mulai menghiasi Lapangan Banteng pada 17 Agustus 1963. Asal muasal patung bertubuh kekar yang berdiri tegak di tengah Lapangan Banteng hingga kini itu, tidak lepas dari sejarah Trikora.

Trikora, atau Tri Komando Rakyat, adalah nama operasi yang dikumandangkan Presiden Soekarno di Yogyakarta, untuk membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda. Ide pembuatan patung yang terbuat dari perunggu dan memiliki bobot hingga delapan ton tersebut divisualisasi oleh Henk Ngantung, dalam bentuk sketsa.

Sketsa itu mengilustrasikan seseorang yang telah bebas dari penjajahan dan diterjemahkan melalui rantai serta borgol pada patung tersebut. Sementara maestro dari patung tersebut adalah Edhi Sunarso, yang juga pemahat patung Selamat Datang di Bundaran HI. Pembuatan patung tersebut memakan waktu 12 bulan. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post