Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

CEO Ruang Guru Hingga Santri jadi Staf Khusus Presiden dari Kalangan Millenial

Presiden Jokowi mengumumkan 7 Staf Khusus Presiden dari kalangan millenial, di Verranda Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/11) sore. (Foto: JAY/Humas Setkab)

Salah satu Staf Khusus Presiden dari kalangan millenial adalah Adamas Belva Syah Devara. Adamas adalah CEO Ruang Guru dan masuk daftar forbes di bawah umur 30 tahun.

JAKARTA – KABARE.ID: Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenal tujuh Staf Khusus Presiden (SKP) baru yang berasal dari kalangan millenial di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

“Sore hari ini, saya ingin mengenalkan Staf Khusus Presiden yang baru yang tugas khususnya nanti adalah mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang,” kata Presiden Jokowi seraya menambahkan, mereka adalah anak-anak mudah semuanya.

Berikut adalah nama - nama SKP millenial pilihan Jokowi berikut juga prestasinya:

Pertama, Adamas Belva Syah Devara, umur 29 tahun, lulusan S2 Harvard University dan Stanford university di Amerika serikat. Belva adalah pendiri dan juga CEO Ruang Guru. Ia masuk daftar forbes 30 di umur di bawah 30 tahun, juga mendapatkan medali emas dari Lee Kuan Yew saat lulus sarjana di NTU di Singapura.

Baca juga: Pembangunan Jalur MRT Bundaran HI - Ancol Mulai Akhir 2020

Kedua, Putri Indahsari Tanjung, umur 23 tahun, sarjana Academy of Art di San Francisco. Putri Indahsari Tanjung adalah founder dan CEO di Creativepreneur dan juga menjadi Chief Business Officer of Kreavi.

Ketiga, Andi Taufan Garuda Putra, umur 32 tahun, lulusan Harvard Kennedy School. Andi bergerak di dunia entrepreneur dan banyak meraih penghargaan atas inovasinya termasuk atas kepeduliannya terhadap sektor-sektor UMKM. Andi adalah CEO PT Amartha Mikro Fintech. Jokowi mengaku mengenal Andi saat urusan fintech.

Keempat, Ayu Kartika Dewi, umur 36 tahun. Ayu adalah pendiri dan mentor lembaga SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali). Ia meraih gelar MBA di Duke University di Amerika Serikat.

Kelima, Gracia Billy Mambrasar, umur 31 tahun, lulusan NU Australia, S2 dan sebentar lagi selesai di Oxford University. Ia juga telah diterima masuk di Harvard University untuk S3. Billy adalah putra tanah Papua yang menjadi CEO Kitong Bisa. Ia diberi tugas oleh Jokowi untuk berkontribusi dengan gagasan-gagasan inovatif dalam membangun tanah Papua.

Baca juga: Presiden Singgung Perjuangan Memberantas Kemiskinan dan Kebodohan di Hari Pahlawan

Keenam, Angkie Yudistia, umur 32 tahun. Angkie adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur melalui Thisable Enterprise yang didirikannya. Aktif sebagai anggota Asia Pacifik Federation of the Hard of Hearing dan Deafened Person dan anggota International Federation Hard of Hearing Young people. Secara khusus Angkie diminta oleh Presiden Jokowi untuk menjadi juru bicara Presiden di bidang sosial.

Terakhir, Aminuddin Maruf, umur 33 tahun. Maruf adalah santri yang pernah menjadi ketua umum Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII). Aminuddin diminta Jokowi untuk keliling ke pesantren untuk menebar gagasan-gagasan, inovasi-inovasi baru, karena Jokowi yakin pesantren akan bisa melahirkan talenta-talenta yang hebat untuk memajukan Indonesia.

Menurut Presiden, ketujuh anak muda itu akan menjadi teman diskusi dirinya harian, mingguan, bulanan. Memberikan gagasan-gagasan segar yang inovatif sehingga bisa mencari cara-cara baru yang out of the box, yang melompat untuk mengejar kemajuan Indonesia. “Saya juga meminta mereka untuk menjadi jembatan saya dengan anak-anak muda, para santri muda, para diaspora yang tersebar di berbagai tempat,” ungkap Presiden Jokowi.

Selain tujuh orang SKP dari kalangan millenial yang diperkenalkan, Jokowi juga juga mengangkat tujuh orang SKP dari kalangan professional. Mereka adalah Arif Budimanta, Dini Purwono, Sukardi Rinakit, Ari Dwipayana, Diaz Hendropriyono, Fadjroel Rahman dan Anggit Nugroho.

Baca juga: Presiden Jokowi: Pemerintah Akan Bangun Kota yang Hebat di Ibu Kota Baru

Soal jumlah total SKP itu, Jokowi mengaku tidak menghitung. “14, nah. Saya itu enggak pernah ngitung,” ujarnya. Adapun mengenai pembagian bidang-bidangnya, menurut Jokowi, mereka akan bekerja beriringan. Hanya tadi Mbak Angkie (Angkie Yudistia), khusus untuk juru bicara bidang sosial. “Saya tambahi tugas itu,” ucap Presiden.

Mengenai tujuh SKP millenial, Jokowi mengemukakan, bahwa mereka tidak bekerja secara full time, karena sudah memiliki kegiatan dan pekerjaannya masing – masing. “Yang bisa nanti mingguan, bisa tidak haruskan ketemu, enggak harus ketemu, tapi minimal 1 minggu, 2 minggu pasti ketemu. Kan tidak harus harian ketemu, tapi bahwa masukan itu setiap jam, setiap menit kan bisa saja,” kata Presiden Jokowi.

Jokowi juga menjelaskan, bahwa penunjukan para SKP itu tidak pernah mendadak. Sudah berapa tahun sebelumnya, Jokowi mengaku telah berbicara dengan mereka untuk menjadi Staf Khusus Presiden. “Enggak pernah saya yang namanya dadakan, enggak pernah. Prosesnya berapa lama tanyakan langsung ke beliau-beliau,” tegas Presiden Jokowi. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post