Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Selasa (31/3), 1.528 orang di Indonesia Positif Covid-19, 81 orang sembuh, dan 138 meninggal.
NASIONAL

Catatan dari Padang (3) Pers Harus Tetap Jujur

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi pembicara kunci Konvensi Media Massa-HPN 2018, di Padang, 8/2/2018. (Foto: ysh/kabare.id)

Konvensi Media Massa yang digelar dalam Hari Pers Nasional (HPN) menantang jajaran pers dan media untuk memegang teguh prinsip dasarnya.

KABARE.ID : Meski  media massa konvensional di Tanah Air banyak yang rontok diterjang tsunami digital, dan kini menjamur media siber (online) nir-kertas, ada hal prinsip yang tidak boleh berubah sampai kapanpun. Apa itu? Pers/media harus tetap jujur dalam menyampaikan fakta dan kebenaran.

Ini salah satu dari sekian banyak hal penting dari Konvensi Media Massa Hari HPN 2018 di Hotel Grand Ina Padang, Sumatera Barat (8/2/2018). Mengusung tema "Iklim Bermedia yang Sehat dan Seimbang : Untuk Mempertahankan Eksistensi Media Massa Nasional dalam Lanskap Komunikasi Informasi Global". Menampilkan nara sumber dari pelaku media, organisasi media, wakil rakyat, hingga pemerintah.

Sebagian nara sumber dan peserta Konvensi Media Massa HPN 2018 di Grand Ina Hotel Padang, 8 Februari 2018. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Kecuali harus tetap jujur dalam menyampaikan fakta dan kebenaran, pers dan media harus hibur yang susah, bela yang lemah, ingatkan yang mapan. Tegakkan keadilan. Selain itu kawal proses berbangsa dan bernegara yang demokratis. Sadari keragaman masyarakat, tanggungjawab sosial, kehati-hatian. Tetap independen, berimbang, berpegang kode etik. "Dan wartawan Indonesia, harus peka dengan pluralisme, kebhinekaan, memahami SARA dan terus memajukan Indonesia," tandas Rektor Universitas Multi Media Nusantara Ninok Leksono, yang juga Redaktur Senior Kompas dalam sidang paralel konvensi.

Menurut Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, di Indonesia saat ini terdapat sekitar 47.000 media. Dari jumlah itu 2.000 media cetak, 674 radio, 523 televisi termasuk lokal selebihnya daring/siber/online. Sayang sebagian besar asal saja, dan tidak memenuhi syarat sebagai media, tapi ditopang APBD. Wartawannya juga tidak semua memiliki kompetensi dan pengetahuan jurnalistik, serta tidak pernah mengikuti pelatihan jurnalistik. Sampai saat ini baru 14.000 wartawan yang memiliki kompetensi. Yosep mengingatkan kebebasan yang kita nikmati saat ini jangan dijadikan kesempatan membuat berita bohong atau hoaks. Sebaliknya malah harus meningkatkan kemampuan wartawan dan verifikasi media.

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (Foto:ysh/kabare.id)

 

Pers Aktor Dominan  

Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebagai pembicara kunci dalam konvensi ini, dari sisi pemerintah, melihat bahwa  pers menjadi salah satu pemangku kepentingan dan aktor dominan dalam proses pembangunan negara. Pemerintah menggunakan pers untuk menyalurkan informasi dan mengedukasi serta menyampaikan program-progran pembangunan kepada masyarakat. Tentu saja pemerintah ingin informasinya disampaikan secara utuh, panjang lebar. Tapi itu tidak mungkin, karena ruangan terbatas. Apalagi, menurut mantan Direktur Bank Dunia ini, era generasi milenial, berita terbatas 144 karakter. "Bagaimana memuat nota keuangan 300 halaman, hanya dengan 144 karakter," tanyanya dengan nada gelisah. Itulah sebabnya wartawan memerlukan kompetensi.

Jurnalis Karaniya Dharmasaputra pada sesi lain menambahkan, bahwa  pada era digital saat ini informasi cenderung disampaikan secara singkat padat, dan tidak harus selalu dalam bentuk teks/kata, melainkan bisa dalam bentuk audio-visual dengan durasi pendek, maupun foto. Kalaupun teks, juga pendek. Jangan salah, kualitas tidak identik dengan sesuatu yang panjang. Dan untuk membuat yang pendek, berkualitas, dibutuhkan kompetensi tersendiri.

 

Sinergi, Membangun, dan Strategi Baru

Ketua SPS Dahlan Iskan.(Foto: ysh/kabare.id)

 

Jika ada orang berpendapat bahwa media digital/siber/online itu kompetitor media konvensional (cetak, radio dan televisi), itu tidak benar.  Yang benar, menurut Executive Director Nielsen Media Hellen Katherina,  ada tiga kata kunci agar bisa eksis di era digital, yakni Sinergi, Membangun dan Strategi Baru. Dalam arti, "Relasi media digital dan konvensional, bukan kompetisi, melainkan saling melengkapi. Peranan media bukan hanya sebagai watchdog tetapi juga untuk membangun masyarakat. Dan pusatkan energi untuk bersinergi dan membangun strategi baru untuk monetisasi."

Namun Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) Dahlan Iskan punya pandangan beda. Bahwa, inilah zaman dengan perkembangan media digital yang begitu cepat, tapi tidak ada yang tahu seperti apa masa depan kita nantinya Belum lagi 9 tahun kedepan, China mulai mengganti dosen/guru dengan robot dengan kecerdasan buatan yang lebih analitik dibanding manusia. "Maka kita harus siap kehilangan pekerjaan, dan siap menciptakan pekerjaan baru. Karena itu sekarang ini tidak usah terlalu mendengar nasihat, presdiksi, perencanaan jangka panjang. Sulit sekali, " ujar Dahlan disambut ger-geran -- ngeri-ngeri sedap  -- oleh para peserta konvensi.

Pendiri Jawa Pos Group ini lebih jauh melihat sekarang ini jumlah media cetak kalah jumlahnya dibanding media online. Baginya ini belum seberapa, justru  nanti akan lebih banyak lagi. Dia prediksi 70 persen pemilik media online berasal dari wartawan/redaktur media cetak, yang keluar dari berbagai perusahaan media cetak, dengan berbagai sebab, misalnya gajinya kecil, pimpinannya tidak bisa diandalkan,dll. Akibatnya persaingan semakin sengit. "Agar surat kabar tetap hidup, dibutuhkan kesenimanan menulis bagi wartawan yang bersertifikasi dan media yang terverifikasi".

Yang melegakan, meskipun ini zaman semua orang tidak tahu masa depan, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara tahu persis bahwa pihaknya tidak akan mengutak-utik kebebasan pers, dan menjamin UU Nomer 40 tahun 1999 tentang Pers tidak akan ada turunannya.   

Turut serta bicara dalam kovensi ini Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi, pemilik media salah satunya Presdir VIVA Media Grup Anindya Bakri, dll. (Bersambung)

 

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

  1. Avatar
    Emi sudarwati Thursday, 15 February 2018

    Benar. Yang dibutuhkan bukanlah persaingan, melainkan kerja sama. Itu salah satu kunci sukses

KOMENTAR

Popular Post