Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Butuh Asupan Estetika dan Seni

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah

Manusia memerlukan asupan estetika dan seni yang bercita rasa tinggi, hasil dari kreasi budaya. Kalau tidak, alangkah keringnya hidup ini. Konsep hidup seperti ini terkadang diwujudkan Halim Alamsyah dengan mengundang seniman untuk baca puisi di acara-acara tertentu.

Jakarta - Bank Peserta Penjaminan LPS. Tulisan itu biasanya ditaruh di counter bank, banking hall, atau customer service. Tujuannya,  bank meyakinkan nasabah bahwa dananya aman karena dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Asalkan semuannya memenuhi syarat: saldo pada satu bank tidak lebih dari Rp2 miliar (berlaku sejak 13 Oktober 2008). Kalau seseorang punya empat rekening di satu bank, misalnya, maka saldo keempat rekening tersebut dijumlahkan. Apabila lebih Rp2 miliar, maka LPS tidak akan memberikan jaminan.

Selain itu, LPS juga mempertimbangkan besarnya suku bunga bank. Suku bunga bank telah dipatok untuk bank umum sampai 7,5% (simpanan rupiah) dan 1,2% (simpanan valuta asing); sedangkan untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sampai 10%. Suku bunga tersebut berlaku pada periode 8 Oktober 2015-14 Januari 2016. Apabila bank memberikan bunga lebih dari itu, LPS tidak memberikan jaminan.

Terkadang bank memberikan berbagai hadiah kepada, misalnya, pengelola dana yayasan atau perusahaan. Hadiah bisa berupa tiket, fasilitas, dan sebagainya. Apabila dihitung total hadiah dengan bunga yang diberikan, jumlahnya melampaui suku bunga yang telah ditetapkan. Hal juga tidak dijamin LPS.

Apabila ada bank yang berani memberikan bunga di atas penjaminan LPS, menurut Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS, masyarakat harus curiga. “Kalau bank yang sehat biasanya tidak akan agresif. Bukan sifat alamiah bank untuk mengambil risiko berlebihan. Bank cenderung konservatif dan hati-hati,” ujarnya ayah tiga anak ini.

Pria kelahiran Bangka, 6 Maret 1957, ini mendapat gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada 1980. Gelar Sarjana Hukum (SH) dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada pada 1981. Master of Arts (MA) Bidang Ekonomi Pembangunan dari Boston University, Amerika Serikat pada 1985. Doktor (DR) Bidang Ekonomi Moneter dari Universitas Indonesia pada 2008.

Menjadi Ketua Dewan Komisioner LPS sejak September 2015. Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia periode Juni 2010–Juni 2015. Salah satu anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ex officio, mewakili Bank Indonesia dalam periode Juli 2012–Juli 2015.

Halim Alamsyah berkarier sekitar 33 tahun di Bank Indonesia. Dimulai sebagai  staf analis kredit di Urusan Kredit Koperasi pada 1982. Pernah menjabat Kepala Biro Gubernur, serta Direktur pada Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan pada 2002, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter pada 2003, Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat pada 2005, Direktorat Statistik dan Moneter pada 2006. Terakhir, sebagai Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan pada 2007-2010. Kemudian diangkat Presiden sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia bidang pengaturan, pengawasan dan penelitian Perbankan.

Penyuka motor Vespa semasa kuliah ini terlibat aktif dalam berbagai forum internasional mewakili Bank Indonesia, antara lain, anggota Financial Stability Board (FSB), anggota Basel Committee on Banking Supervision (BCBS), anggota Islamic Financial Services Board (IFSB), anggota International Islamic Liquidity Management (IILM) dan International Islamic Financial Market (IIFM). Berikut petikan wawancara dengan penyuka syair-syair indah ini.

 

Apa fungsi utama LPS?

LPS punya dua fungsi utama, penjaminan simpanan masyarakat di bank umum dan BPR. Juga fungsi penyelesaian penutupan bank dan likuidasinya.

 

Sudah ada yang ditutup?

Sampai saat ini, sudah 65 bank ditutup: 64 BPR dan satu bank umum (Bank IFI).

 

Bisa diceritakan bagaimana proses penutupan bank?

Penutupan bank prosesnya datang dari OJK. Kalau OJK mengatakan sudah tidak bisa disehatkan, OJK minta LPS untuk rekomendasi diselamatkan atau ditutup. Kemudian LPS bikin list cost test; menghitung biaya paling rendah antara menutup dengan diselamatkan. LPS melakukan due diligence, dihitung aset dan liabilitiesnya. Misalnya lebih murah kalau ditutup, ya ditutup. Itulah kasus 65 bank.

 

Konsekuensi lainnya adalah membayar uang nasabah pemilik dana?

Jika persyaratannya sesuai dengan ketentuan LPS, dibayar. Tetapi kalau tidak memenuhi ketentuan,tidak dibayar pokok dan bunganya. Kadang-kadang ada dana milik perusahaan atau yayasan, dilaporkan pengurusnya dapat bunga 7,5%, sesuai dengan ketentuan LPS. Berdasarkan pemeriksaan teman-teman di LPS, ternyata pengurus yayasan atau perusahaan dapat sesuatu, misalnya fee, tiket atau tambahan hadiah ini itu yang bisa dipersamakan dengan suku bunga. Kalau dihitung-hitung jadi lebih dari 7,5%. Itu tidak eligible.

 

Apakah hadiah dan sebagainya itu tertulis di bank?

Catatan di bank ada, dia ngasih katakanlah hadiah, tiket, memberikan fasilitas apa pun, itu bisa kita hitung nominal rupiahnya, yang nantinya dikaitkan dengan suku bunga yang diberikan.

 

Oh begitu ya…? Saya baru tahu kalau memberikan hadiah dan sejenisnya, nanti akan dihitung yang kemudian akan ditambahkan dengan jumlah bunga yang diberikan?

Masyarakat banyak yang tidak tahu memang. Tetapi bank

punya kewajiban memberitahu. Misalnya, seorang Ibu dikasih 8%. Pihak bank mengatakan, misalnya, “Tetapi ini melanggar ketentuan LPS. Walaupun Ibu cuma naruh Rp500 juta, kalau nanti ada apa-apa, Ibu enggak dibayar LPS. Ibu mau enggak?” Kalau si Ibu jawab, “Ok, saya bersedia mengambil risiko itu.” Ya, sudah.

 

LPS tidak melarang?

Tidak, tetapi jadi tidak dijamin. Terkadang masyarakat menempuh, istilahnya, high risk high return.

 

Himbuan Bapak?

Himbuan saya, kalau ada bank yang menawarkan suku bunga tinggi di pasar, masyarakat harus curiga. Justru bank ini punya risiko. Kalau bank yang sehat biasanya tidak akan agresif. Bukan nature bank, bukan sifat alamiah bank untuk mengambil risiko berlebihan. Bank cenderung konservatif karena ada aturan kehati-hatian (prudential).

 

Bank dituntut hati-hati, mengapa?

Karena dia lembaga yang dipercaya masyarakat untuk menyimpan uangnya disitu. Jadi masyarakat tidak akan berani menaruh uang di bank yang abal-abal. Bank adalah lembaga kepercayaan. Bank pada dasarnya selalu rawan terhadap rumor, selalu rawan terhadap desas-desus yang bisa mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat.

 

Saking hati-hatinya, loan to deposit ratio (LDR) juga dibatasi sampai 92% saja. Kenapa?

Jangan sampai bank kekurangan likuiditas. Jangan sampai terjadi seperti tahun 1997-1998; bank mengambil dana masyarakat  100%, tetapi memberikan kredit sampai 120%. Lalu, untuk menutupi kelebihannya uang dari mana? Hutang dari Bank Indonesia dengan menggunakan fasilitas Surat Berharga Pasar Uang (SBPU). Akibatnya perbankan kita collapse. Berakhir di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).

 

Kondisi perbankan saat ini seperti apa?

Dari sisi fundamental perbankan kita kuat. Karena sudah dijaga. Capital adequacy ratio (CAR) sudah dinaikkan sekitar 10-14%, itu minimal. Bahkan bank-bank besar kalau CAR-nya 14-15%, sudah mepet sekali. Karena kalau dia ekspansi, CAR-nya bisa turun 2 poin. Biasanya begitu proyeksi ke depan akan ekspansi, pasti sudah minta izin untuk menambah modal melalui penerbitan obligasi, initial public offering (IPO) dan sebagainya.

 

Dollar AS bergejolak cukup besar, dari Rp10 ribu menjadi Rp13 ribu. Batas psikologis itu dimana sebenarnya?

Kan batas psikologis yang bikin kita sendiri (pasar, Red.). Pasar punya dinamikanya sendiri. Dan yang namanya batas psikologis itu sekadar untuk analisis jangka pendek. Dalam dunia keuangan ada analisis teknikal dan fundamental. Nah, kalau kita bicara batas psikologis, itu analisis teknikal, bukan fundamental.

Pemain pasar yang bermain detik-detikan, jam-jaman, biasanya melihat kondisi paling tinggi yang pernah dicapai berapa. Ooo… Rp10.000, berarti batas psikologis Rp10 ribu. Jadi berdasarkan prilaku masa lalu, kecendrungan. Kalau semua orang menggunakan hal yang sama, akhirnya percaya titik tertentu itu batas psikologis.

 

Sampai akhir tahun ini, bagaimana pencapaian industri perbankan?

Tahun lalu (akhir 2014), pertumbuhan perbankan sekitar 15%. Tahun ini, ya… 10-12%. Tahun ini agak menurun, kredit melambat. Itu karena pengaruh prosiklikalitas; ketika ekonomi sedang naik, dia (bank) ikut naik (ekspansi kredit). Ketika ekonomi sedang turun, NPL naik, dia (bank) mengurangi kreditnya.

 

Ekonomi melambat karena pengaruh apa?

Ekonomi kita terpengaruh dua faktor utama. Faktor luar negeri, terutama China yang menjadi mitra dagang utama kita.  Dan kondisi fiskal dalam negeri dimana pemerintah  tidak begitu cepat pengeluarannya (anggaran, Red.).

 

Dulu dipengaruhi krisis di Yunani dan Amerika. Sekarang China?

Iya, China yang paling besar. Mitra dagang kita yang paling utama China. Kawasan Asia juga mitra dagang paling utama China. Saat China turun, bukan hanya Indonesia yang kena, Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand juga kena. Ekspor kita ke negara-negara tersebut juga turun.

China ekonominya turun, selain ada masalah di ekonominya sendiri, juga karena berhadapan dengan permintaan yang masih melemah dari Amerika dan Eropa. Ini saling terkait. Misalnya, Amerika tahun ini mulai kenceng lagi,  baru akan menolong China. Ketika China tumbuh, baru menolong negara-negara di Asia.

 

Situasi 2016 bagaimana?

Pendorong pertumbuhan ekonomi global itu berpindah dari negara-negara di Asia menjadi ke Amerika dan Eropa. Amerika tahun depan mungkin belum akan kencang, tetapi sudah lebih baik. Jepang juga belum setinggi Amerika. Sementara China masih berhadapan dengan masalah di dalam negerinya, terutama tingginya utang secara keseluruhan, 200% dari PDB-nya. Itu sebagian mungkin akan menjadi NPL. Banyak yang khawatir China masuk ke resesi lebih dalam.

 

China bukannya sering beli surat utang Amerika?

Dibandingkan dengan utangnya sendiri, itu tidak seberapa. Jangan terilusi dengan cadangan devisa pemerintah China yang mencapai 4000 triliun dollar AS. Tetapi hutangnya 8000 triliun dollar AS. Artinya tidak solvent sebagai negara.

 

Apa penyebab resesi di China?

Pengeluaran terbesar mereka pada 2009-2010. Mereka menggenjot ekonomi dengan membuat dua kota sebesar Jakarta, tetapi tidak ada penduduknya, sehingga disebut ghost town. Jumlahnya mencapai triliunan dollar. Mereka bikin waktu itu agar dapat tumbuh sampai 9%.

Sekarang pertumbuhannya di bawah 7%. Buat mereka 7% sudah rendah tidak bisa menyerap tenaga kerja yang ada di sana. Mereka juga bermasalah dengan upah buruh yang sudah mulai naik.

 

Ada wacana di Indonesia lebih baik pegang Yuan daripada Dollar AS. Bagaimana menurut Bapak?

Saya masih belum yakin. Yuan belum sepenuhnya convertible. Kalau beli Yuan dalam  jumlah besar harus izin dulu ke PBOC (People’s Bank of China). Sementara kalau mau beli dollar AS di Eropa, Singapura, dan sebagainya, tidak harus minta izin ke The Federeal Reserve. Begitu juga untuk Euro dan Yen.

Kalau Yuan mau menjadi mata uang dunia, dia harus membuang ketentuan-ketentuan itu. Dalam praktik di lapangan, orang tidak mudah pegang Yuan, ada pembatasan-pembatasan. Sekarang kalau mau membeli surat berharga pemerintah China, itu harus minta izin.

 

Yuan berarti tidak likuid?

Memang tidak likuid. Yieldnya memang tinggi, tetapi tidak gampang membelinya. Bank sentral yang mau membeli surat berharga pemerintah China, itu harus daftar. Ibarat mau beli barang tetapi harus daftar dahulu. Lama-lama orang berpikir, lebih baik beli barang lain yang lebih bagus tetapi tidak perlu daftar.  Masih ada mata uang dunia yang likuid dan mudah seperti Euro, dollar AS, Yen, Poundsterling, kenapa cape-cape beli Yuan.

 

Berapa besar premi yang dibayar bank-bank ke LPS?

0,1% dari total simpanan. Saat ini, LPS punya Rp60 triliun. Dengan 65 bank yang ditutup, LPS sudah membayar Rp800 miliar dana masyarakat.

 

Uang Rp60 triliun itu untuk apa saja?

Kita hanya boleh membeli Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Lainnya tidak boleh. Kita bukan lembaga mencari keuntungan. Kita lembaga pembuat stabilitas dan keamanan uang masyarakat.

 

Apakah kalau bank besar collapse, LPS dapat membayar dana pihak ketiga (DPK)?

Bank Mandiri itu Rp800 triliun total asetnya, dan DPK-nya mungkin Rp700 triliun. Mana ada uang LPS sebesar itu. Karena itu, bank-bank besar nanti diwajibkan membuat program untuk recovery mereka sendiri. Bank-bank besar harus punya cadangan sendiri atau harus punya jalan untuk menolong dirinya sendiri, namanya bail in.

 

Apa pandangan Bapak terhadap isu-isu kebudayaan kita yang kerap diklaim negara lain?

Apresiasi terhadap budaya kita belum tinggi. Seingat saya kita pernah mengalami boom budaya tahun 80-an awal. Ketika saya SMA, banyak teater-teater dan majalah khusus kesusastraan muncul.

 

Sekarang peduli budaya sedang digerakkan pemerintah?

Tetapi saya belum melihat jelas arahnya seperti apa. Budaya adalah hasil olahan cita rasa manusia sehingga memiliki nilai cita rasa yang memang diakui tinggi, seperti tarian, tulisan sastra, lukisan, patung, dan sebagainya. Itu adalah ekspresi kemanusiaan yang tinggi. Saya rasa kita belum sampai ke situ. Kita belum menghargai para seniman dengan penghargaan atau apresiasi yang layak.

 

Apakah gerakan kebudayaan penting?

Kita hidup tidak hanya makan nasi saja, perlu santapan rohani, seperti cita rasa dan estetika. Saat ini, kita terlalu hedonis, yang dikonsumsi lebih banyak materi. Padahal kita hidup tidak bisa seperti itu. Kita juga memerlukan asupan estetika dan seni yang bercita rasa tinggi, hasil dari kreasi budaya. Kalau enggak, alangkah keringnya hidup ini.

 

Apakah ada program agar karyawan LPS dapat bekerja dengan seimbang?

Saya akan dorong yang sifatnya membawa hidup lebih bermakna. Kita sudah berdiskusi dengan para pegawai kalau hanya kerja, sepertinya ada sesuatu yang salah. Ketika di suatu organisasi hanya membicarakan kerja, kerja, kerja… Ini pasti ujungnya mental break down. Jadi harus ada yang lain, apakah ceramah agama, baca puisi, diskusi dan apresiasi lukisan, mendengar lagu-lagu yang mengandung nilai sastra, dan sebagainya.

 

Bagaimana membina quality of life dengan keluarga?

Setelah melihat kembali perjalanan karier saya, pada akhirnya memang keluarga nomor satu. Waktu masih muda saya tidak pernah terpikir seperti itu. Sampai suatu ketika saya dan beberapa CEO (chiep executive officer) papan atas ikut program leadership di Harvard.

Saya tanya ke pengajar, seorang profesor yang juga sebagai presiden direktur perusahaan alat-alat kesehatan di Amerika yang sangat terkenal. Dia jelas orang sibuk sekali. Dia membagi tugas antara pekerjaan, mengajar dan keluarga. Sabtu dan Minggu di rumah bersama keluarga. Dia hidup sudah puluhan tahun seperti itu.  

Dia bercerita, sebelum mengambil posisi jabatan, dia bicarakan dengan keluarga. Mereka mendukung atau tidak. Kalau keluarga sudah lepas semua dan tinggal istri, kita pun harus diskusi dengan istri terlebih dulu. Kalau mereka mendukung, berarti kita konsekuen setiap Sabtu-Minggu di rumah. Berjanji juga dalam satu hari di antara Senin sampai Jumat akan makan bersama. Kecuali ada hal kritikal yang tidak dapat dihindari. Kalau setuju, kita komit dan menghargai komitmen.

Memang yang menjadi masalah adalah membagi waktu pekerjaan dengan keluarga. Contoh dari profesor tersebut menurut saya sangat rasional dan win-win untuk semua. Hal ini perjalanan yang berharga bagi saya. Saya berjanji pada Sabtu dan Minggu untuk keluarga, kecuali ada acara golf. Tetapi di Minggu, saya tidak golf. Lalu pada malam tertentu, saya makan di luar bersama keluarga.

Waktu di Bank Indonesia, hal ini saya praktikkan. Saya minta izin kepada Pak Gubernur, kalau ada wisuda anak mohon dizinkan; buat saya ini tidak bisa dinegosiasi, kecuali kondisi negara membutuhkan. Kebetulan Pak Gubernur juga sama bahwa jangan sampai kalau wisuda anak, keluarga tidak lengkap kehadirannya. Itu nanti akan menjadi catatan anak seumur hidupnya. Alhamdulillah, setiap wisuda anak saya selalu hadir.

Teks: La Ode Idris; Foto: Dhodi Syailendra

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post