Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Bung Hatta: Media Massa Produk Sejarah dan Menciptakan Sejarah

Logo HPN 2018.

Lahirnya tokoh-tokoh nasional asal daerah Sumatera Barat, tidak lepas dari perjalanan sejarah media massa lokal, sejak pra kemerdekaan hingga sekarang.

PADANG, KABARE.ID : Lanskap perjalanan  pers Sumatera Barat sejak era penjajahan Belanda, sedang dipamerkan di UPTD Museum Adityawarman, Padang, Sumatera Barat. Sebagai bentuk keikutsertaan museum dalam merayakan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang, yang rangkaiannya telah dimulai sejak 1 Februari lalu hingga puncaknya 9 Februari 2018. 

Suasana pameran Sejarah Pers Nasional di Museum Adityawarman Padang. Nampak foto tokoh pers Rohana Kudus dan Adinegoro. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Menurut kajian Gusti Anan, Staf Pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Andalas Padang, pada tahun 1952 ketika meresmikan gedung baru RRI Padang, Bung Hatta mengatakan bahwa tanpa media massa lembaran sejarah Sumatera Barat akan kurang lengkap isinya. "Sehingga pemahaman dan kebangsaan kita juga menjadi kurang sempurna jadinya... Media massa adalah produk sejarah dan sekaligus menciptakan sejarah," tulis Agus menirukan Bung Hatta, dwi tunggal Bung Karno, yang kita kenal sebagai Wakil Presiden RI pertama dan Proklamator Republik Indonesia.

Media massa daerah, lanjut Gusti Anan, lahir sebagai respon sebagian warga atau berbagai komponen daerah yang kritis dan inovatif terhadap kesempatan atau perubahan yang tengah melanda daerahnya. Dalam konteks belakangan ini, kehadiran media massa daerah (surat kabar, majalah, radio, atau televisi) -- belum disinggung media sosial--red -- dapat menciptakan keharmonisan (dan mempertajam konflik) di tengah masyarakat. 

 

Surat Kabar hingga Radio Kuno

Pengunjung memperhatikan koran-koran kuno Sumatera Barat yang dipamerkan. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Nampak dipajang apik di dalam ruangan museum tersebut, koleksi koran-koran hitam putih yang berusia ratusan tahun, dengan ejaan lama. Misalnya saja koran Oetoesan Melajoe, Soenting Melajoe, Bintang Tionghoa, Warta Hindia, Perca Barat, Minangkabau Bergerak, Soematra Bode, Asjraq, Perdamean, Warta Perniagaan, Soeara Islam, Kodrat Moeda, Soeara Kaoem Iboe Soematra, dll.

Juga dipajang serta berbagai  koleksi kamera kuno sebagai alat merekam gambar, mesin cetak, hingga radio transistor untuk mendengarkan berita dari dalam dan luar Sumatera Barat, bahkan luar negeri. Dilengkapi foto-foto dan biodata dua tokoh penting insan pers Sumatera Barat yang kemudian menjadi tokoh nasional: Adinegoro dan Rohana Kudus.

Koran Soeara Kaoem Iboe Soematera, terbit 1929. (Foto: ysh/kabare.id)

 

Adinegoro (Djamaluddin Datok Madjo Sutan) kelahiran Talawi, Sawahlunto, 14 Agustus 1904, wafat di Jakarta 8 Januari 1967. Masih kerabat Moh Yamin, asal Talawi juga. Karier kewartawanannya dimulai dari majalah Cahaya Hindia. Pernah memimpin Majalah Pandji Pustaka (Jakarta) dan surat kabar Pewarta Delli (Medan), dan Sumatera Shimbun. Bersama Prof.Supomo ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950). Selanjutnya memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia. Terakhir sampai akhir hayatnya ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kini menjadi Kantor Berita Antara). Ia juga dikenal sebagai sastrawan. Tahun 1974 ia dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia.

Adapun muslimah Rohana Kudus, lahir di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884. Wafat 17 Agustus 1972 di Jakarta. Masih kerabat Sjahrir dan Chairil Anwar. Pencetus dan Pemimpin Redaksi koran perempuan Soenting Melajoe. Koran ini dibiayai dan didirikan oleh Datuk Sutan Maharadja, Pemred Oetoesan Melayu, atas permintaan Rohana. Di surat kabar ini Rohana banyak menyoroti kehidupan perempuan, dan menolak poligami karena merugikan keluarga.

 

Delapan Periode

Koran PERDAMEAN(1926), media pers Islam, dengan penanggung jawab/redaksi  Lim Hoen Hin. Hanya 7 kali terbit (Foto: ysh/kabare.id)

 

Kehadiran media massa di Sumatera Barat telah berlangsung lama, sejak pertengahan abad ke-19, tahun 1859 (Sumatra Courant) yang dipimpin LNHA Chatelin, era penjajahan Belanda. Menurut Gusti Anan, paling tua dan paling banyak memiliki penerbitan, jika dibanding daerah lain di kawasan Sumatera. Dan jika melihat di ruang pameran, kita bisa menyaksikan koran-koran itu dengan beragam tahun, tempat terbit, jenis, desain, dan hingga haluan. Pada masa itu sudah ada koran khusus perempuan, koran muslim, disamping koran umum bermuatan politik, ekonomi, dosial budaya. Juga koran Islam dengan pimpinan Cina.

Jika direntang, ada delapan periode media massa di Sumatera Barat: 1. Periode awal (masa penjajahan Belanda).  2. Periode pergolakan (dominannya surat kabar Melayu yang diterbitkan orang Minang di berbagai pelosok. Pergolakan cukup sengit antar "urang awak" pemegang adat vs pembaharu Islam, dan  "urang awak" dengan penjajah); 3.Periode  terbelenggu (zaman Jepang); 4. Periode berjuang (proklamasi kemerdekaan hingga Belanda ingin menjajah kembali); 5. Periode liberal (1950-1958); 6. Periode intervensi (sejak PRRI-G.30 SPKI), 7. Periode intervensi kedua (Orde Baru); 8. Periode kebablasan (euforia reformasi).

"Perkembangan selama Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi, nampaknya tidak memberikan sesuatu yang khas bagi Sumatera Barat. Pengalaman daerah ini waktu itu relatif sama dengan pengalaman daerah lain di Indonesia," tandas Gusti Anam.

"Pameran ini untuk mengedukasi khalayak ramai tentang perjalanan pers dari beberapa periode, " ujar Kepala UPTD Museum Adityawarman Adi Saputra dalam katalog pameran. Hal ini juga bentuk perwujudan museum sebagai lembaga pelestari dan informasi budaya bangsa, tambah Kepala Dinas Propinsi Sumatera Barat Taufik Effendi.  

Yusuf Susilo Hartono

 

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post