Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

BUMN dan Swasta Bentuk Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia

Lima pemimpin perusahaan BUMN dan Swasta serta organisasi dan pemerintah saat melakukan penandatanganan kerjasama JBDI di Jakarta. (Kabare.co/ Baskoro)

Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia mendorong komunitas bisnis di Indonesia untuk lebih inklusif dan kondusif. Caranya, dapat melalui pertukaran informasi dan berbagi pengalaman maupun kerjasama antara perusahaan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Jakarta - Bertepatan dengan peringatan Kesadaran Disabilitas, Bank Mandiri, L'oreal Indonesia, Standard Chartered Bank, Tetra Pak Stainless Engineering, dan Trans Retail Indonesia bersepakat untuk membentuk Jejaring Bisnis & Disabilitas Indonesia (JBDI) di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Jumat (16/12). Lima perusahaan tersebut bermitra dengan Disabled Person Organisations (DPO), Kementerian Ketenagakerjaan, International Labour Organization (ILO) dan BPJS Ketenagakerjaan mendirikan JBDI secara sukarela dengan penandatanganan komitmen yang bersifat terbuka.

Pendirian JBDI didasari oleh riset dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 yang menyebutkan, estimasi jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 12,15℅, hanya 51,12℅ yang turut berpartisipasi dalam pasar kerja Indonesia. Sedangkan non-penyandang disabilitas berada pada 70,40℅.

Francesco d'Ovidio, ILO Country untuk Indonesia menyampaikan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi sangat besar yang dapat dieksporasi oleh perusahaan dalam mencapai target. Namun perusahaan masih bertindak sendiri tanpa ada satu basis pelaksanaan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.

"Jejaring ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk berbagi dan belajar membangun lingkungan kerja yang kondusif dan adil," jelas Francesco di Jakarta, Jumat (16/12).

Francesco memaparkan, penyandang disabilitas juga dapat menjadi lebih sadar akan kesempatan yang ada bagi mereka untuk mengembangkan karir di bidang korporasi atau sektor formal sesuai dengan kemampuan, minat dan bakatnya.

"Memperkerjakan penyandang disabilitas bukanlah sebuah tindakan amal. Ini adalah kesempatan untuk mengembangkan perusahaan maupun penyandang disabilitas menuju jalur karier yang lebih baik. Kami juga akan mengajak perusahaan lain untuk mengikuti langkah lima perusahaan ini. Karena tindakan merupakan hal yang patut dilakukan," tutup Francesco.

Baskoro

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post