Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Berkunjung ke Desa Bawomataluo, Tempat Lahirnya Pelompat Batu Nias

Desa Bawomataluo adalah tempat lahirnya pelompat batu handal asal Kepulauan Nias. (Foto: Kemenpar)

Desa Bawomataluo adalah tempat lahirnya pelompat batu handal asal Kepulauan Nias. Desa ini menjadi salah satu bagian dari Ya’ahowu Nias Festival 2018.

TELUK DALAM – KABARE.ID: Secara administrasi, Desa Bawomataluo berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Dari Kota Teluk Dalam, desa ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan mobil.

Desa kecil ini dihuni lebih dari 2.000 jiwa, dengan jumlah 300 kepala keluarga. Tak heran jika dalam satu rumah terdapat sekitar dua hingga tiga keluarga.

Desa yang sudah ada sejak sekitar 250 tahun yang lalu ini ini punya sejarah panjang. Masyarakatnya pun masih mempertahankan keaslian bangunan adat mereka.


Seperti halnya masyarakat Nias lain, warga Desa Bawomataluo terkenal ramah. Tak heran jika desa ini dimasukkan sebagai salah satu sub event dari Ya’ahowu Nias Festival 2018, dengan nama One Day in Bawomataluo.

Bahkan, baru-baru ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Bawomataluo sebagai desa wisata. Sertifikat sebagai Cagar Budaya Nasional diserahkan perwakilan Kemendikbud, pada 19 November 2018.

Di desa ini, anak-anak yang beranjak dewasa akan melakukan Fahombo Batu alias Lompat Batu untuk menjadi ‘prajurit’. Sebelum melompat batu, anak-anak di usia 10 tahun ke bawah, dilatih dengan media bambu.

Kemampuan mereka akan terus diasah hingga berhasil mencapai level yang diinginkan. Puncaknya mereka akan melakukan simulasi Fahombo Batu dengan papan yang dibuat menyerupai batu. Ini tahap terakhir sebelum mereka bisa dilepas sebagai pelompat batu.

Selain Fahombo Batu, Desa Bawomataluo juga punya aktivitas Famadaya Harimao. Biasanya, aktivitas ini dilakukan setiap tujuh tahun sekali. Kegiatan ini berupa mengarak replika harimau menggunakan kayu besar. Mereka diiringi dengan para penari perang dalam jumlah besar.

Atraksi Tari Perang yang dibawakan orang-orang tua menjadi aksi yang juga digelar di Desa Bawomataluo. Tarian ini juga dibawakan kolosal, lengkap dengan pakaian kebesaran Nias, serta beragam atribut prajurit.


“Sekarang tradisi dan budaya yang telah mereka pertahankan selama ratusan tahun telah menghasilkan.. satu atraksi pariwisata yang gaungnya terdengar hingga mancanegara,” kata Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya dalam keterangan resmi yang dikutip Kabare.id, Rabu (21/11/2018).

Menpar Arief menambahkan, hal ini sesuai dengan prinsip yang selalu ia tanamkan. “Budaya itu semakin dilestarikan semakin menghasilkan, semakin punya nilai jual. Desa Bawomataluo sudah membuktikannya,” tandas Arief Yahya. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post