Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
SENI BUDAYA

Beripat Beregong, Adu Kejantanan Khas Belitung

Tari Beripat Beregong modern. (Foto: Pesona.travel)

Beripat Beregong adalah tarian adu kejantanan khas Belitung. Penari yang mendapat bekas gebukan paling sedikit adalah pemenangnya dan berhak meminang sang putri idaman.

JAKARTA – KABARE.ID: Belitung bukan hanya memiliki pantai dengan pemandangan indah, tapi juga kaya dengan beragam seni dan budaya. Salah satunya adalah tari Beripat Beregong, sebuah pertunjukan adu ketangguhan laki-laki dengan cara saling memukul memakai senjata rotan.

Ketika dimainkan, tari Beripat Beregong diiringi dengan alat musik gong, kelinang, dan serunai. Rotan yang dipakai berukuran sekitar 80 cm berikut pegangan yang terbuat dari kayu. Aturan mainnya, peserta hanya boleh memukul bagian punggung lawan, tak boleh mengenai kepala atau bagian bawah tubuh. Pemenangnya adalah, peserta yang mendapat pukulan paling sedikit.

Tarian ini juga merupakan budaya setempat ketika kedua petarung sedang memperebutkan seorang wanita. Wanita dengan pakaian adat Belitung, sambil menari di pinggir arena sambil membawa selendang. Ketika gebukan rotan mengenai selendang yang dibentangkan wanita, maka pertandingan adu kuat itu usai. Lalu, dihitung bekas gebukan di tubuh untuk mencari pemenang.

Prosesi tari adu gebuk rotan ini biasanya dilengkapi dengan arena tanding mirip ring tinju dan bangunan tinggi, sekitar 6-7 meter yang diisi oleh orang yang memainkan gong, kelinang, dan serunai. Ketika musik sudah dimainkan, peserta masuk sambil membawa rotan dan menaruhnya di arena. Lalu, peserta lain datang juga menaruh rotan untuk menantang pembawa rotan pertama. Biasanya ada wasit untuk menilai jumlah gebukan yang ada di tubuh.

Gelaran ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar kampung dan memupuk sportivitas. Peserta yang tanding tidak boleh satu kampung. Dengan adanya lawan antar kampung ini, maka pihak yang tadinya tidak saling mengenal menjadi kenal.

Sekarang kegiatan ini dilestarikan dalam bentuk acara budaya dan seni. Dalam gelaran ini, ditampilkan anak muda dengan setting-an agar terlihat atraktif. Kedua pemain sudah saling sepakat, siapa yang memulai menggebuk terlebih dahulu. Ada aksi melompat, sehingga pertandingan menjadi lebih menarik. (*)

 

Sumber: Pesona.travel

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post