Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Belajar Toleransi Beragama dari Pulau Lombok

Ilustrasi: Masyarakat Lombok saat berkesenian. (Foto: Ditjen Kebidayaan Kemendikbud)

Pulau Lombok adalah tempat dimana 95 persen penduduknya beragama Islam tetapi agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu dapat hidup tentram.

LOMBOK - KABARE.ID: Pulau Lombok menyimpan cerita tentang toleransi beragama yang tinggi.

Dusun Tebango, Desa Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat merupakan sebuah desa yang patut menjadi contoh.

Masyarakat di desa tersebut dapat hidup rukun dan harmonis meski mereka berbeda keyakinan.

Terdapat sekitar 350 kepala keluarga di desa tersebut. Islam, Budha dan Hindu menjadi agama-agama yang banyak dianut di dusun ini.

Kendati demikian, sepanjang sejarah belum pernah tercatat konflik lintas agama di wilayah ini.

Penduduk Dusun Tebango Desa Pemenang tampak harmonis dan saling membantu satu sama lain.

Pada saat umat Budha dan Hindu membangun tempat peribadatan, warga muslim dengan semangat bergotong royong membantu. Hal serupa juga dilakukan umat Budha dan Hindu yang membantu membangun masjid.

Tak hanya rumah ibadah, masyarakat Tebango juga saling membantu dalam proses membangun rumah untuk bangkit dari musibah Gempa Lombok pada Juli 2018 lalu.

Toleransi juga ditunjukkan pada saat masyarakat muslim mengadakan pengajian, kegiatan keagamaan lain dihentikan sementara.

Begitu juga pada saat kegiatan berkesenian. Anak-anak muslim yang ingin belajar tari boleh belajar dari guru yang beragama Budha. Kegiatan-kegiatan desa juga dapat dilakukan di vihara oleh penganut agama lain.

Sikap toleransi yang tinggi tidak hanya ada di Dusun Tebango saja, hampir di setiap sudut pulau, toleransi terjaga dengan baik.

Sehingga tidak berlebihan, jika berbicara soal toleransi beragama, sepertinya kita harus belajar dari Lombok.

Tempat dimana 95 persen penduduknya beragama Islam tetapi agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu dapat hidup tentram. (*/bas)

 

Sumber: Ditjrn Kebudayaan Kemendikbud    

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post