Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Bebek Timbungan, Sajian Khas Tertua Masyarakat Bali

Menteri Pariwisata Arief Yahya di sela peresmian Restoran Bebek Timbungan di Kuta Bali, Minggu (17/2/2019). (Foto: Kemenpar RI)

Bebek timbungan merupakan salah satu sajian terkenal dan tertua khas Bali. Timbungan sendiri berasal dari kata timbung yang memiliki arti bambu. Jadi, Bebek Timbungan adalah hidangan daging bebek yang dimasak menggunakan bilah bambu.

KUTA-KABARE.ID: Bebek timbungan, sajian khas tertua masyarakat Bali kembali dipopulerkan lewat pembukaan Restoran Bebek Timbungan Bali yang berada di Pertokoan Sunset One, Jl. Sunset Road No.88, Kuta, Badung, Bali.

Pembukaan restoran yang diselenggarakan pada Minggu (17/2/2019) ini diresmikan langsung oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Dalam kesempatan itu, Menpar Arief berharap bebek timbungan yang dipopulerkan kembali bisa menjadi daya tarik baru bagi dunia wisata kuliner di Pulau Dewata.

“Saya berharap Bebek Timbungan semakin melengkapi kuliner di Bali dan diminati oleh wisatawan berlibur ke Bali,” ujar Menpar Arief Yahya dalam keterangan resmi, Senin (18/2/2019).

Baca juga: Khasiat Rebusan Air Daun Salam, Bisa Bikin Tubuh Langsing!

Restoran yang menyajikan masakan berbahan dasar bebek itu memang diharapkan akan semakin melengkapi kuliner tradisional yang ada di Pulau Dewata. Sebut saja ayam betutu, sate lilit, atau sayur plecing kangkung yang selama ini menjadi daya tarik kuliner yang terkenal di Bali.

Selama ini menu bebek timbungan merupakan kuliner khas Bali yang biasanya disajikan menjelang Hari Raya Galungan. Kelezatan bebek timbungan didapat dari olahan bumbu dan rempah serta sajian bebek yang dimasak hingga empuk.

Sajian satu ini makin nikmat jika disantap dengan nasi putih panas dan sambal matah yang juga khas Bali. Sajian khas dan istimewa ini dihidangkan dengan mempertahankan komposisi dan cara pengolahan sesuai dengan resep warisan leluhur.

Baca juga: Sasar Wisman, Indonesia Buka Restoran di Tiongkok

Menpar Arief Yahya yang hadir bersama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardana Sukawati mengatakan, pengeluaran wisatawan paling besar selain untuk akomodasi adalah untuk keperluan makanan/kuliner. Jumlahnya mencapai 60 persen dengan rincian 40 persen untuk hotel dan 20 persen untuk kuliner atau restoran.

Menpar Arief juga menekankan pentingnya bisnis kuliner di kawasan pariwisata. Bahkan menurutnya, diplomasi sosial ekonomi terbaik melalui kuliner. “Ya jadi sudah saya simpulkan tadi, diplomasi sosial ekonomi terbaik itu melalui kuliner,” kata Menpar. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post