Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Baron Basuning Gelar Pameran Tunggal di Galnas Indonesia

Salah satu pengunjung sedang menatap lukisan abstrak Baron Basuning di Pameran Noor di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (15/1/2019). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Pelukis Baron Basuning menggelar pameran tunggal bertajuk “Noor” di Galeri Nasional (Galnas) Indonesia, Jakarta. Pameran ini menyajikan 38 karya yang sebagian besar terinspirasi dari cahaya, yang dalam pameran ini mengambil istilah noor.

JAKARTA-KABARE.ID: Pameran yang digelar untuk merayakan 20 tahun Baron Basuning berkarya ini berlangsung pada 9 Januari - 8 Februari 2019 di Gedung A, Galnas Indonesia.

Dalam kepercayaan Islam, “Sang Ilahi” dinyatakan sebagai sesuatu yang Nir-Rupa, abstrak ataupun tanpa figur, tetapi dapat diartikan sebagai puncak dari segala cahaya.

Menurut kurator Eddy Soetriyono, Baron diketahui kerap melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Ia mengunjungi Istana Al Hambra di Spanyol, lalu ke Masjid Nasir Al Mulk di Iran, serta ke Taj Mahal di India.

“Inspirasinya melakukan perjalanan ke berbagai bangunan Islam yang memiliki nilai artistik membuatnya melahirkan lukisan-lukisan abstrak," ujar Eddy dalam keterangan pers yang dikutip Kabare.id, Selasa (15/1/2019).

Lukisan Baron Basuning berjudul "Benua Radja" yang memiliki panjang 9,8 meter. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Dari perjalanan itulah, lahir lukisan abstrak di antaranya adalah “Noor”, “Pualam Kenangan”, “Hold the Light”, “Into the Light”, dan lain-lain. Baron pun menyambangi New York yang tergambar dalam lukisan “Fairytale of New York”.

Begitu juga dengan lukisan “Semburat Merah di Bukit Sabhika” di India atau tentang dirinya sebagai pengembara kepada migrasi burung antar-benua dalam “Balance”.

Lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 16 September 1962, tamataan SMA di Purworejo, Jawa Tengah ini pernah kuliah di STP/IISIP Jakarta (1981-1984). Sebelum menekuni seni rupa, pada pertengahan 90-an, Baron pernah bergabung sebagai aktivis dan jurnalis dalam Komunitas Eros Djarot.

Pasca 98, ia terjun ke dunia seni rupa lantaran terinspirasi dari hamparan salju putih Kutub Selatan yang pernah ia singgahi pada pertengahan 80-an. Setelah itu, ia aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama, di dalam dan luar negeri.

Salah satu pengunjung sedang menatap lukisan abstrak Baron Basuning di Pameran Noor di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (15/1/2019). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Menurut budayawan dan juga politikus Indonesia, Eros Djarot, Baron Basuning yang romantis tengah bernostalgia dengan menelusuri kembali jejak tapak kakinya di dunia lukis yang ia geluti selama puluhan tahun. Eros bahkan menyebut Baron sebagai pelukis dengan P besar, karena telah berhasil menghadirkan dirinya ke dalam lukisan.

“Semoga para pengunjung yang menyaksikan karya-karya Baron Basuning ini merasakan ‘ada’ dan hadirnya dialog antara lukisan-lukisan yang dipamerkan. Dengan siapapun yang menghampiri dan menatapnya,” kata Eros.

Hasti salah satu pengunjung yang berasal dari Jakarta Utara mengaku terkesan dengan lukisan-lukisan yang dipamerkan. “Kurang ngerti makna lukisan abstrak, sih. Tapi bagus-bagus lukisannya,” katanya. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post