Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Bahasa Indonesia, Bahasa Plural yang Terus Berkembang

Remy Sylado dalam acara diskusi Bahasa ‘Bahasa Indonesia, Bahasa yang Berkembang’ di Gedung Balai Budaya Jakarta, Senin (30/10/2017). (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

Sejarah mencatat Bahasa Indonesia adalah bahasa yang berkembang dari ragam bahasa Melayu. Budayawan Yapi Panda Abdiel Tambayong atau lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado menyebutkan, Bahasa Indonesia adalah bahasa yang direkap dan disempurnakan oleh ahli-ahli bahasa Belanda di Indonesia.

JAKARTA-KABARE.CO: Bahasa Indonesia mulai dipopulerkan sejarak peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928. Sebuah peristiwa politik dimana pemuda-pemuda pada waktu itu ingin melepaskan diri dari penjajahan Belanda dengan memiliki bahasa persatuan. Tanah air satu, Bangsa satu dan Bahasa persatuan yang satu tanpa mengabaikan bahasa daerah yang penting bagi perkembangan Bahasa Indonesia.

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia sudah betul betul berkembang sebagai bahasa yang pluralitas lewat teks proklamasi. Sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang Bahasa, Remy Sylado menjabarkan pluralitas dalam teks proklamasi.

“Di dalam teks proklamasi Bahasa Melayu yang dipetik, yang diambil dari bahasa Austronesia hanya dua kata, yaitu jang (yang) dan ini. Semua kata selain dua kata tersebut adalah bahasa asing yang menjadi bahasa Indonesia yang kadang-kadang kita lupa,” ucap Remy dalam acara diskusi Bahasa 'Bahasa Indonesia, Bahasa yang Berkembang' di Gedung Balai Budaya Jakarta, Senin (30/10/2017).

 

Dia menjelasakan satu persatu mulai dari kata ‘kami’ dalam teks proklamasi yang berasal dari bahasa Champ dari kata gami. Kata ‘bangsa’ dari bahasa Sanskerta dari kata wangsa. Kata ‘Indonesia’ bahkan diberikan oleh seorang etnolog dari Inggris, James Richardson Logan pada 1848. Kata ‘hal-hal’ berasal dari bahasa Arab. Kata ‘tempo’ dari bahasa Italia. Kata ‘sesingkat-singkatnja’ dari bahasa China. Bahkan nama yang menandatangani ‘Soekarno’ dari Bahasa Sanskerta dan Hatta dari Bahasa Arab. Pencatatan "tahun 05" dari tahun Showa yang merupakan unsur Jepang, sedangkan 17 Agustusnya adalah tahun masehi. Pemilik bangunan dicetuskannya Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya Nomor 106 adalah Sie Kok Liong, seorang warga keturunan Cina.

“Kita dari awal sudah memahami bahwa bahasa Indonesia sesuai dengan bangsa kita adalah bangsa plural, jadi bahasa kita pun bahasa plural, Bhinneka Tunggal Ika, dan akan terus berkembang,” ujar Remy yang juga seorang seniman yang rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua.

Remy Sylado dalam acara diskusi Bahasa ‘Bahasa Indonesia, Bahasa yang Berkembang’ di Gedung Balai Budaya Jakarta, Senin (30/10/2017). (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

 

Bahasa Indonesia tidak lepas dari peristiwa politik dan perkembangan zaman

Remy mengatakan, Bahasa Indonesia juga tidak lepas dari peristiwa politik. Pada zaman Orde Lama, misalnya, pihak nasionalis menyebut perayaan ulang tahun dengan istilah 'HUT' (hari ulang tahun), pihak Lesbumi NU menggunakan istilah 'Harlah' (hari ulang tahun), dan PKI menyebutnya dengan istilah 'Ultah' (ulang tahun). Sehingga pada masa Orde Lama seseorang bisa dilihat berasal dari kelompok mana sesuai dengan istilah yang digunakan, apakah dia kelompok nasionalis, kelompok agama atau kelompok palu arit.

Dia juga menjelaskan, apa yang ada dan dikenal 30 tahun lalu akan berubah mengikuti perkembangan zaman. Misalnya kata 'korting' yang saat ini sudah jarang terdengar dan tergantikan dengan kata 'diskon'. Ada juga kata busway, JORR, stakeholder dan begitu banyak kosakata bahasa Inggris yang dipakai seperti 'kesurupan' oleh pemerintah. Namun hal tersebut bukan masalah lantaran bahasa Indonesia memang bahasa yang berkembang dari bahasa luar.

Anak muda sekarang juga memiliki bahasanya sendiri. Remy memberi contoh kata ‘kuper’ (kurang pergaulan) yang diambil dari salah satu penyanyi rock Alice Cooper yang memiliki tampang agak kacau. Kata ‘telmi’ (telat mikir) berasal dari lagu The Beatles "Tell Me Why", serta kata ‘jeger’ (jagoan) yang diambil dari nama Mick Jagger yang memiliki perawakan jagoan. 

Menurut dia, sastrawan memiliki peran penting dan harus berani melawan Bahasa Indonesia yang tidak tepat yang sudah ‘terlanjur’ dipublikasikan sampai saat ini. Peran orang tua juga berpengaruh terhadap perkembangan generasi mendatang dengan membiasakan ananknya untuk membaca puisi. Karena puisi biasanya menggunakan Bahasa Indonesia yang tertib. Menggunakan bahasa kesenian yang selalu mengalir dan tidak kaku. (Bas)

Remy Sylado. (Foto: Kabare.co/ Baskoro Dien)

 

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post