Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

BaBe Meluncurkan Aliansi Pengecekan Fakta untuk Melawan Hoax

Presidium Mafindo, Anita Wahid dalam acara peluncuran kanal “BaBe Ungkap Fakta” di Jakarta, Kamis (28/2/2019). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Agregator berita BaBe (Baca Berita), mengumumkan peluncuran “BaBe Ungkap Fakta”, sebuah kanal yang bertujuan untuk melawan hoax dengan menyajikan konten yang telah terverifikasi dan diperiksa kebenarannya.

JAKARTA-KABARE.ID: Donny Eryastha, Head of Public Policy BaBe mengatakan, sistem kerja ungkap fakta yang dilakukan BaBe menggunakan teknologi artificial intelligence yang digabungkan dengan tenaga manusia untuk mencari konten-konten hoax.

Kanal ini dibuat dengan kemitraan bersama otoritas pemeriksa fakta Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), dan dua media massa Indonesia, yakni Tempo.co dan Viva.co.id.

“Data Kominfo tahun lalu ada 800ribu berita hoax di Indonesia. Dengan tingkat literasi yang rendah, 60 persen masyarakat Indonesia langsung percaya berita hoax yang mereka baca tanpa melakukan klarifikasi,” ujar Donny dalam acara peluncuran BaBe Ungkap Fakta di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Donny menjelaskan lebih lanjut, setiap bulannya BaBe menghadirkan lebih dari 1 juta konten dalam 30 kategori jenis berita kepada 10 juta pembaca aktifnya.  “Oleh sebab itu, kami merasa punya tanggung jawab untuk bersama memberantas hoax di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Strategi Babe Lawan Berita Hoax

Dalam kesempatan yang sama Presidium Mafindo, Anita Wahid menjelaskan seberapa besar sebuah berita hoax mampu mengancam persatuan bangsa. Apalagi hoax yang berkaitan dengan identitas seseorang atau kelompok tertentu, misalnya pilihan politik, ras, dan agama.

“Setiap menerima pesan hoax rasa percaya seseorang mulai menghilang, digantikan dengan rasa curiga yang meningkat. Lama kelamaan orang itu jadi tidak suka kepada identitas seseorang atau kelompok tertentu, akibatnya yang muncul adalah ujaran kebencian. Jika sudah benci, keinginan untuk tabbayun (mengklarifikasi berita) sudah hilang,” ujarnya.

Di Indonesia, kata Anita, fenomena ujaran kebencian umumnya marak terjadi saat mendekati Pemilu. “Banyak kita temukan ujaran kebencian mendekati Pemilu, karena bibit hoaxnya sudah ditanam jauh jauh hari, bahkan beberapa tahun sebelum Pemilu,” tandasnya. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post