Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Ayo Datang ke Festival Seni Rupa Anak Indonesia di Galeri Nasional

Poster Festival Seni Rupa Anak Indonesia yang digelar di Galeri Nasional Indonesia.

Festival Seni Rupa Anak Indonesia bertajuk “MAIN” digelar untuk memperingati Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli.

JAKARTA-KABARE.ID: Galeri Nasional Indonesia menggelar Festival Seni Rupa Anak Indonesia bertajuk “MAIN” pada 23 - 23 Agustus 2019. Tim kurator festival, yaitu Asikin Hasan, Citra Smara Dewi, Teguh Margono, dan Bayu Genia Krishbie menyebut, istilah “MAIN” dipilih karena dekat dengan anak-anak dan proses kreativitas.

Selama satu bulan penuh, Festival Seni Rupa Anak Indonesia “MAIN” menyajikan pameran, pemutaran film, lokakarya, permainan, dan dongeng, yang secara keseluruhan terkait dengan sains, lingkungan, dan motivasi.

Pameran menampilkan 74 karya pilihan dari 376 karya seni rupa anak Indonesia yang dijaring melalui aplikasi terbuka se-Indonesia. Kemudian 43 karya pemenang Lomba Lukis Kolektif Pelajar Galeri Nasional Indonesia (2009-2018).

Ada juga empat karya pemenang Lomba Lukis dan Cipta Puisi Anak-Anak Tingkat Nasional 2008 di Istana Kepresidenan Cipanas. Serta 34 karya seni rupa dari lembaga dan komunitas yang diundang khusus berdasarkan pertimbangan kuratorial.

Karya-karya tersebut disajikan melalui lukisan, batik, keramik, fotografi, instalasi, film, digital art, seni interaktif, dan seni partisipatif.

Baca juga: Paduan Suara Indonesia Tampil Memukau di Amerika Serikat

Pada sesi pemutaran film, akan ditayangkan lima film yang dikaitkan dengan lima eksperimen. Sementara dalam sesi lokakarya, akan disajikan berbagai kegiatan yang memberikan kesempatan kepada publik untuk ikut aktif berpartisipasi membuat karya seni.

Dalam pameran ini, anak-anak akan diajak membuat wayang kardus, cap pada tas jinjing, bereksperimen warna monoprin menggunakan mesin cetak, mewarnai buku cerita, serta membuat jilid buku cerita dan belajar jilid buku gaya Jepang. Sedangkan bagi remaja, guru, dan orang tua dapat mengikuti lokakarya mengemas menggunakan kain tradisional Jepang, dan membuat alat ajar dari bahan daur ulang.

Ada juga beragam permainan yang mengajak anak-anak bermain menggunakan daun, memainkan permainan tradisional Jepang, atau bermain boardgames dari Jerman.

Yang tak kalah seru, ditampilkan juga pertunjukan dongeng bersama PM Toh dan Yoko Takafuji yang akan bercerita tentang tsunami. Ada pula dongeng tentang ular bersama Kak Andi Yudha sekaligus mengenal dan bermain bersama ular, serta menggambar ular pada kertas sepuluh meter. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post