Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Selasa (31/3), 1.528 orang di Indonesia Positif Covid-19, 81 orang sembuh, dan 138 meninggal.
BISNIS

Ayam Jago yang Berkokok dari Timur

Sulistyo. (Foto Kabare/ Baskoro)

Sulistyo, Pelukis asal Solo yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta, kembali menarasikan konsep jagoannya pada 30 bidang kanvas dengan berbagai ukuran, warna dan sudut pandang estetika seni serta kebudayaan dalam pameran tunggal bertajuk Jagonya Jagoan.

Jakarta - Sulistyo lahir di Tulungagung pada 30 November 1971. Sejak usia 8 Sulistyo mulai belajar melukis Chinese painting di bawah bimbingan Lie Hwat Swie di Surakarta. Dalam masa kecinya Sulistyo telah memenangkan beberapa lomba lukis di Surakarta.

Pada tahun 1989 Sulistyo terdaftar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan memiliki pameran pertama bersama 5 departemen IKJ.

Pada tahun 1991 Sulistyo mengadakan pameran tunggal pertamanya di taman Budaya Surakarta, pameran ini bertajuk “Ekspresi Hitam Putih 1”. Sejak itu Sulistyo telah mengadakan 25 pameran tunggal dan berpartisipasi dalam lebih dari 100 pameran bersama baik nasional dan internasional.

Berikut adalah petikan wawancara Sulistyo dengan Kabare.co saat ditemui di pameran tunggal ke-25 nya bertajuk Jagonya Jagoan di Kunstkring Paleis, Jakarta, Rabu (1/2).

 

Teknik apa yang anda gunakan dalam pameran kali ini dan apa yang ingin anda sampaikan?

Sebenarnya untuk teknik kan relatif ya, karena setiap seniman itu punya garis tangan. Boleh dibilang seperti tanda tangan. Kebetulan di lukisan ini ya itulah karya saya. Dengan teknik waterpiece yang saya kembangkan menjadi ciri khas Sulistyo.

Saya selalu menarik satu garis melengkung ke atas di setiap karya saya. Itu yang saya simbolkan “kita harus maju terus ke depan”.

Salah satu lukisan yang dipamerkan ada gambar ayam dengan latar belakang peta Indonesia, apa yang ingin anda sampaikan lewat karya satu ini?

Saya bikin tagline yang sudah sering saya sebarkan, untuk memberikan inspirasi, memberikan motivasi kepada seluruh anak bangsa, baik di militer, maupun di kampus kampus, bahwa setiap kita bisa menjadi jagoan buat Indonesia. Salah satunya, ya wujud visualisasi kepulauan Indonesia dengan ada ayam jago yang sedang berkokok, dan dari timur.

Kenapa dari Timur?

Karena kita mulai sesuatu apa apa dari timur. Ya selain itu kita memberikan secara tidak langsung satu imbauan kepada pemimpin negara ini bahwa kita juga harus mulai pembangunan dari timur.

Jadi anda ingin sampaikan bahwa jagoan tidak hanya ada di pulau Jawa, melainkan juga ada di Indonesia bagian Timur?

Iya, itu salah satu yang saya simbolkan yakni jagoan dari timur. Sepereti matahari terbit dari timur, apa yang kita kerjakan, dan banyak kebaikan dari sana. 

Bagaimana cara menikmati seni agar bisa memahami pesan yang ingin disampaikan seniman di setiap karya seninya?

Sebenarnya melihat karya seni itu ya seperti ekspresi, kalo Sudjojono bilang jiwa yang “ketok”, jadi apa yang ditampilkan senimannya disini.

Mungkin kalau lukisan saya masih tergolong realis, yang masih bisa dinikmati dini oleh masyarakat awam. Ya sangat mudah ditafsirkan, apalagi dibantu dengan judul dan temanya. Tapi kalau mau mandalami lebih lanjut, mungkin secara visual kita hanya bisa menilai dari tekniknya. Tapi untuk pendalaman pesan yang disampaikan ya harus bicara dengan senimannya, satu persatu karyanya.

Salah satunya lukisan ayam jago dengan Bima Sakti yang saya tampilkan dalam pameran kali ini. Saya mencoba mewujudkan sosok Bima dalam wayang Pandawa, salah satu kesatria yang mempunyai nilai lebih. Saya sangat bangga dengan Bima Sakti, karena beliau mempunyai kekuatan secara fisik, juga memiliki jiwa kejujuran, ketegasan, dan ini saya wujudkan dengan jago, yang kebetulan ada sosok jago yang punya kekuatan yang saya lihat seperti Bima itu sendiri.

Saya mengkolaborasikan proses karya dengan sosok Bima melalui banyak sketsa yang akhirnya mendapatkan bentuk jago yang maksimal seperti ini. 

Baskoro

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post