Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Arumi Emil Dardak Ajak Masyarakat Jatim Membudayakan Makan Ikan

Arumi Emil Dardak (bawah kedua dari kanan) berfoto bersama Chef Juna dan perwakilan Dinas Perikanan dan TP PKK se-Jatim. (Foto: humasprovjatim)

Arumi mengatakan, ikan memiliki nilai gizi yang tinggi. Selain itu, kita tinggal di negara maritim, dimana wilayah lautannya lebih besar daripada daratan. Dengan demikian, potensi ikan kita sudah pasti sangat banyak, baik ikan laut, maupun ikan tawar.

SURABAYA – KABARE.ID: Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan Nasional (Forikan) Jawa Timur (Jatim), Arumi Emil Elestianto Dardak mengajak seluruh pihak, khususnya masyarakat Jatim untuk membudayakan makan ikan. Tujuannya agar kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak terpenuhi

“Jika dulu, ibu menteri kelautan dan perikanan mengatakan, jika tidak makan ikan, harus ditenggelamkan. Mentalitas seperti itu harus ditingkatkan, karena Indonesia adalah negara maritim,” kata Arumi saat membuka puncak Hari Ikan Nasional (Harkannas) tahun 2019 di Dyandra Expo Surabaya, Kamis (21/11/2019).

Arumi mengatakan, ikan memiliki nilai gizi yang tinggi. Selain itu, kita tinggal di negara maritim, dimana wilayah lautannya lebih besar daripada daratan. Dengan demikian, potensi ikan kita sudah pasti sangat banyak, baik ikan laut, maupun ikan tawar.

“Sebagai negara maritim, kita ingin menjadikan ikan sebagai makanan pokok, sebab akan lucu jika orang Indonesia masih kurang gizi, padahal potensi ikannya banyak. Dan ikan mengandung banyak gizi, mulai protein, karbohidrat, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh,” katanya.

Baca juga: Orang Rimba Melawan Himpitan Kemajuan Zaman

Lebih lanjut Ketua Forikan itu menyampaikan, per Oktober 2019, tingkat konsumsi ikan masyarakat Jatim sudah mencapai 36 kg per kapita/tahun. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 34 kg per kapita/tahun. Dirinya menargetkan, angka tersebut bisa meningkat hingga 40-an kg per kapita/tahun.

“Kami melihat trennya semakin naik, dan itu menjadi penyemangat kami juga. Artinya, kampanye tentang ayo makan ikan itu ada keberhasilan. Harapannya, bisa meningkat terus, minimal berbeda tipis dengan Jepang,” katanya.

Agar tingkat konsumsi ikan Jatim semakin naik, istri Wagub Jatim itu mengajak seluruh elemen Forikan kabupaten/kota untuk menyasar pondok pesantren-pondok pesantren di wilayah masing-masing. Sebab, Jatim memiliki pondok pesantren yang sangat banyak, dengan ribuan santri maupun santriwati di dalamnya.

“Kita harus pastikan gizi mereka tercukupi, di ponpes di kabupaten/kota masing-masing, yang santrinya banyak.. Bisa dibayangkan, yang harus dikasih makan per harinya, ada ribuan orang. Mari kita sasar mereka, agar rutin mengkonsumsi ikan,” ajaknya.

Baca juga: Pemprov Jatim Siapkan Lahan 72 Hektare untuk Bumi Perkemahan Pramuka

Ditambahkannya, pentingnya menyasar ponpes, karena ponpes merupakan ujung tombak dari pendidikan generasi muda, yang menjadi harapan masa depan bangsa. Sebab, di ponpes, mereka mendapatkan pendidikan plus-plus, yaitu edukasi, mental, dan spiritual.

“Sehingga harapan kita pada santri-santri ini sangatlah besar..Maka dari itu, jangan sampai kita kecolongan. Gizinya harus terpenuhi, Mari kita sama-sama fokus ke sana, dan mudah-mudahan dapat melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas, untuk Indonesia yang lebih maju,” ujarnya.

Pernyataan Ketua Forikan Arumi mendapat dukungan dari Ketua Forikan Nasional, Djoko Maryono. Dalam sambutannya, Djoko mengatakan, kurangnya konsumsi ikan membuat Indonesia termasuk dalam salah satu dari 117 negara yang mempunyai tiga masalah gizi tinggi pada balita, yaitu stunting, wasting dan overweight.

Hal ini dilaporkan dalam Global Nutrition Report (GNR) tahun 2014  Nutrition Country Profile Indonesia. Prevalensi ketiga masalah gizi tersebut yaitu stunting 37,2%, wasting 12,1% dan overweight 11,9 %.

Baca juga: 1.500 Keluarga Prasejahtera di Gorontalo Utara Menikmati Pasar Murah

Karena itu, Djoko mengingatkan pentingnya mengembalikan budaya kembali ke meja makan ibu. Sebab meja makan ibu adalah pengarahan gizi, pengarahan psikologi dan edukasi untuk keluarga. Sehingga kemajuan bangsa ini kita mulai dari meja makan Ibu.

“Untuk makanan kaum milenial ini terbiasa dengan konsep ready to eat, dan untuk penyampaian informasi apapun harus lewat gadget. Maka, untuk menyeimbangkan pengaruh gadget ini kita harus mengembalikan budaya ke meja makan ibu,” tegasnya.

Puncak peringatan Harkannas ini dihadiri ratusan undangan terdiri dari Kepala Dinas Perikanan se-Jatim, Kepala OPD di lingkup Pemprov Jatim, dan TP PKK Kabupaten/Kota se Jatim. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post