Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Anak Penjual Sate Kuliah Gratis di UGM

Desmaiti, Roza, dan Suryadi. (Foto: dok Humas UGM)

Mengeluh tidak akan mengubah apapun. Itulah yang dikatakan Suryadi (50 tahun), penjual sate yang berhasil menyekolahkan kedua anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

BUKIT TINGGI-KABARE.ID: Keluarga Suryadi tinggal di kampung Nagari Taluak IV Suku, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Rumahnya berdiri di atas tanah ukuran 4 x 5 meter persegi yang ia sewa sejak puluhan tahun silam.

Di atas tanah yang awalnya ia sewa dengan harga Rp400 ribu, hingga sekarang naik Rp1,5 juta setahun itu, ia mulai membangun sebuah gubuk sebagai tempat bagi keluarga kecilnya agar bisa berteduh.   

Di depan rumah tanpa cat itu, terdapat gerobak sate yang terparkir di bawah pohon. Gerobak inilah yang menjadi andalan Suryadi untuk menyekolahkan kedua anaknya.

Anak pertamanya, Rozi Agus Saputra kuliah di Fakultas Hukum Universitas Riau dan kini sudah hampir selesai. Sementara anak bungsunya, Roza Febria Diniah Putri diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, tahun ini.

Dilansir dari Tim Humas UGM, istri Suryadi, Desmaiti (44 tahun) menceritakan kisah perjuangan hidup bersama sang suami untuk menyekolahkan kedua anaknya.

Ia mengaku hanya bisa menabung dari menyisihkan sedikit penghasilan suaminya berjualan sate. “Sehari itu paling dapat penghasilan bersih Rp40 ribu sampai Rp50 ribu,” kata wanita asal Pariaman itu.

Desmaiti bercerita, sejak dua tahun terakhir suaminya sering sakit-sakitan karena penyakit prostat sehingga lebih sering beristirahat. Selama enam bulan terakhir, pekerjaan suaminya itu digantikan oleh anak sulung agar dapur tetap mengepul. Alhasil, kuliah Rozi pun jadi terbengkalai.

Pekerjaan sebagai penjual sate sudah dilakoni Suryadi sejak menikah tahun 1994. Suryadi mengaku tidak tamat SD sehingga pekerjaan sebagai penjual sate menjadi satu-satunya pekerjaan yang bisa didapatkan.

Sedangkan istrinya hanya tamatan SMP yang sehari-hari membantunya menyiapkan rempah-rempah untuk meracik bumbu sate. “Soal racikan bumbu sate itu bapak yang bikin,” kata Desmaiti.

Karena merasa tidak memiliki pendidikan tinggi dengan kondisi hidup yang serba pas-pasan, kedua suami istri ini pun bertekad untuk menyekolahkan kedua anaknya ke perguruan tinggi.

Harapannya, kedua anaknya bisa memiliki masa depan yang lebih baik. “Siapa tahu ada peningkatan, biar kita saja yang hidup susah,” ujar Desmaiti.

Penghasilan Suryadi sebagai penjual sate tidaklah seberapa. Apalagi sejak tiga tahun terakhir, Ia tidak lagi berjualan sate menggunakan daging sapi, tetapi memilih daging ayam karena harga daging sapi yang mahal.

Suryadi juga tidak menaikkan harga satu porsi satenya, agar para pelanggannya tidak kabur. “Saya jual sate harga Rp10 ribu, lebih murah dari yang lain,” kata Suryadi.  

Lokasi tempat ia berjualan sate berjarak satu kilometer dari rumahnya. Di pinggir jalan raya, di atas tanah bekas rel kereta api, Suryadi mendirikan sebuah warung kecil untuk ruang tempat berjualan.

Dengan harga satu porsi sate yang cukup murah, Suryadi pun bisa mempertahankan pelanggan setianya. “Saya tidak ambil untuk banyak,” katanya.

Mengetahui si bungsu, Roza diterima kuliah gratis di UGM dengan beasiswa Bidikmisi, Desmaiti dan Suryadi mengaku senang dan bersyukur. Desmaiti berharap Roza bisa menyelesaikan pendidikan dokter hewannya tepat waktu.

Menurut sang ibu, sejak kecil Roza memang selalu berprestasi di kelas. Saat Roza menyatakan akan memilih kuliah di UGM, si ibu mengiyakan meski dengan perasaan hati berat melepas anak bungsunya itu.

“Susah juga mau melepas anak ini, tapi kalau kayak gini terus kapan majunya. Saya bilang ilmu harus dicari sampai jauh. Siapa tahu nasib berubah,” kenangnya.

Roza mengaku, sejak lama ia ingin kuliah di UGM. Sejak semester dua kelas X di SMAN 1 Bukit Tinggi, Roza membulatkan tekad memilih jurusan kedokteran hewan lewat jalur SNMPTN jalur bidikmisi agar tidak memberatkan beban ekonomi keluarga.  

“Sejak semester dua di kelas 10 kemarin sudah mikir mau ke FKH UGM,” kata Roza yang sejak kecil suka memelihara kucing di rumahnya.

Cerita singkat dengan keluarga Suryadi ini pun terhenti karena ia akan berangkat berjualan sate. Hujan gerimis yang mengguyur kota Bukit Tinggi sore itu tidak menghalangi Suryadi menjemput rezeki.

Sang istri kemudian membantu mendorong gerobak satenya hingga sampai di ujung gang. Gerobak sate yang menemani keluarga ini selama belasan tahun pun berlalu, kemudian berbelok menuju persimpangan jalan Kayu Gadih. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post