Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Alihkan Perhatian Anak Terhadap Gawai dengan Permainan Tradisional

llustrasi: anak-anak bermain gawai. (Foto: Pixabay)

Saat ini, penggunaan gawai tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun sudah sangat familier untuk mengoperasikan gawai. Bahkan kemajuan teknologi tersebut sudah menyebar hingga ke pelosok daerah.

DEPOK-KABARE.ID: Berawal dari rasa kekhawatiran terhadap dampak yang dapat terjadi pada anak akibat penggunaan gawai yang berlebihan, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nagan Raya, Aceh, berusaha mengalihkan perhatian anak terhadap gawai melalui permainan tradisional.

"Tantangan yang paling besar saat ini  adalah gawai, dan kami ingin mengembalikan karakter anak untuk membentengi tantangan tersebut," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Harbiyah, di sela-sela acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) di Bojongsari, Depok, Senin (11/2/2019).

Dikatakan Harbiyah, banyak permainan tradisional khas Aceh yang dapat dimainkan siswa saat jam istirahat sekolah, misalnya bermain serimbang, lompat tali, dan lain-lain.

"Permainan tradisional seperti serimbang bisa membentuk semua kompetensi yang ada di tubuh anak, baik kognitif, hati, juga gerakannya. Selain itu, bermain lompat tali juga dapat membuat anak lebih sehat karena aktif bergerak, dibandingkan bermain gawai yang cenderung pasif," jelasnya.

Baca juga: Malang Punya Laboratorium Seni Budaya Baru

Permainan serimbang adalah sebuah latihan koordinasi anggota tubuh yang mengandalkan kecepatan tangan dan jari-jari. Permainan serimbang adalah latihan kecerdasan bagi anak-anak dalam koordinasi antara tangan dengan mata. Peralatan yang digunakan dalam permainan tradisional ini yaitu batu ukuran kecil jumlahnya tergantung pada jumlah pemain, dan sebuah batu yang lebih besar.

Lebih lanjut disampaikan Harbiyah, membentuk karakter anak tidak bisa instan dan hanya melalui teori, namun dengan menjadi teladan bagi anak. "Sebagai contoh, banyak anak saat ini bersalaman pada orang tua tidak mencium tangan menggunakan hidung atau kening, tapi dengan pipi. Padahal di Aceh, ada nilai filosofi bahwa salaman dengan orang tua harus dengan mencium tangan melalui hidung atau kening, katanya.

Baca juga: Kemendikbud Bakal Ubah Nomor Induk Siswa dengan Nomor Induk Kependudukan

Disdik Kabupaten Nagan Raya, Aceh juga akan membuat klub-klub olahraga tradisional untuk memfasilitasi siswa agar kembali pada kearifan lokal.

Permainan tradisional dan olahraga tradisional termasuk dalam objek pemajuan kebudayaan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Permainan tradisional diyakini dapat ikut melestarikan budaya daerah dan nilai-nilai karakter.

"Dengan diajak bermain permainan tradisional, anak-anak diingatkan kembali pada nilai-nilai budaya luhur yang nyata-nyata dapat memberi ketenangan serta ketenteraman hidup," tutur Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post