Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

71 Orang Indonesia Meninggal Setiap Hari karena Kanker Paru

Ilustrasi: Foto Istimewa

Selama lima tahun terakhir kasus kanker paru di Indonesia telah meningkat sebesar 10,85% sehingga menempatkan Indonesia pada zona serius. Saat ini, 71 orang Indonesia meninggal setiap harinya karena kanker paru.

JAKARTA – KABARE.ID: Dalam rangka Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia, Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) hari ini (23/11/) kembali menyelenggarakan kegiatan edukasi publik #LUNGTalk, bertajuk “Akses Pengobatan Kanker Paru: Tantangan dan Harapan”. 

Diskusi #LUNGTalk yang diadakan secara virtual dilakukan untuk semakin meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap kondisi terkini kanker paru di Indonesia, faktor risiko dan pentingnya jaminan akses terhadap pengobatan untuk menekan angka kematian akibat kanker paru.

Menurut data GLOBOCAN 2018, kanker paru di Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kanker paling mematikan yang merenggut sebanyak 26.095 jiwa dari 30.023 kasus yang terdiagnosa di 2018. Artinya, tidak kurang dari 71 orang meninggal setiap hari karena kanker paru. Bahkan, selama lima tahun terakhir, kasus kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 10,85% sehingga menempatkan Indonesia pada zona serius.

Salah satu cara untuk menekan prevalensi kanker paru di Indonesia adalah dengan cara mengendalikan dan menurunkan prevalensi rokok serta mengendalikan polusi udara. Berdasarkan penelitian, sedikitnya 80-90% kematian akibat kanker paru di dunia disebabkan oleh asap rokok. Selain berbahaya bagi perokok aktif, asap rokok juga merugikan perokok pasif atau second hand smoker.

Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K), Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengatakan, di dalam asap rokok terdapat kandungan berbagai zat  karsinogen yang dapat menimbulkan berbagai penyakit paru, salah satunya kanker paru. 

Gejala kanker paru sulit dibedakan dengan gejala berbagai penyakit paru lainnya, terutama  gejala saluran napas karena tidak khas, bisa dengan gejala batuk lama, batuk darah, sesak napas, atau nyeri dada. Namun kadang muncul dengan gejala lain, seperti menurunnya berat badan, demam tidak terlalu tinggi tapi tidak respon dengan obat penurun panas. Karena gejala tidak khas, maka  sering terabaikan sehingga kanker tersebut telah berada pada stadium lanjut.  

"Tak hanya perokok aktif, perokok pasif juga bisa terkena kanker paru. Bahkan kadang kanker paru itu kanker paru sekunder yaitu kanker dari organ tubuh lain yang menyebar ke paru. Biasanya, kanker yang sering menyebar ke paru dari organ-organ tertentu seperti kanker payudara, ovarium, serviks, tulang, usus besar, prostat, dan testis," ujar dokter Elisna.

Kanker paru terbagi menjadi dua jenis, yakni kanker paru sel kecil (KPKSK) atau small cell lung cancer (SCLC) dan kanker paru bukan sel kecil (KPBSK) atau non-small cell lung cancer (NSCLC). Jenis kanker NSCLC/KPBSK terbagi dalam banyak jenis tetapi yang terbanyak adalah 3 jenis sel kanker paru yakni adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel besar.

"Jenis kanker paru yang terbanyak pada perokok aktif maupun pasif adalah kanker paru bukan sel kecil (KPBSK) khususnya  adenokarsinoma. Sel kanker tersebut berkembang di dalam jaringan saluran napas (epitel bronkus) dan menginvasi jaringan sekitar dan bahkan  menyebar ke organ lain sekitar rongga toraks hingga organ yang jauh melalui darah dan kelenjar limpa," lanjut dokter Elisna.

Saat ini pengobatan kanker paru di Indonesia telah tersedia dalam beberapa pilihan pengobatan seperti operasi, kemoterapi, terapi radiasi, terapi target, dan yang paling terbaru ialah imunoterapi. Pengobatan inovatif imunoterapi merupakan sebuah metode pengobatan kanker yang mengoptimalkan kemampuan imun tubuh untuk digunakan sebagai senjata dalam melawan sel kanker.

Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K), Dokter Spesialis Paru Konsultan Onkologi menyampaikan, Indonesia telah mengenal imunoterapi untuk kanker paru sejak 2016, yang cara kerjanya menstimulasi sistem imun tubuh untuk memberikan respons imunitas antitumo, sehingga meningkatkan harapan hidup pasien-pasien kanker paru stadium lanjut menjadi lebih panjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien. 

"Cara kerja imunoterapi berbeda dengan kemoterapi. Kemoterapi berfungsi untuk membunuh sel kanker, sedangkan imunoterapi meningkatkan respons imunitas antitumor. Lebih jelasnya, sistem kerja dari pengobatan imunoterapi ini adalah langsung menyasar atau menghambat pertemuan sel imun yang kerap dimanfaatkan oleh sel kanker untuk menghindari serangan dari sistem imun atau daya tahan tubuh. Dengan begitu, sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut,” jelas dokter Sita.

Terdapat beberapa jenis imunoterapi untuk pasien kanker paru yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien kanker, antara lain imunoterapi penghambat ‘checkpoint’ sistem imun, vaksin kanker berupa vaksin terapeutik untuk membunuh sel kanker, dan terapi sel t adoptive yang mengubah salah satu jenis sel darah putih pada penderita kanker untuk dapat kembali menyerang sel kanker. 

"Kehadiran imunoterapi menjawab tantangan dari metode pengobatan kanker terdahulu, yaitu peningkatan respons terapi dan peningkatan kualitas hidup. Selain itu, adanya pengobatan kanker paru yang inovatif juga dapat memberikan optimisme dan proses pengobatan yang lebih baik, khususnya bagi pasien kanker,” tambah Dr. Sita Laksmi Andarini.

Metode imunoterapi akan dilakukan oleh pasien hingga mereka ada perkembangan penyembuhan. Selain itu, mereka akan diperiksa dan dilihat juga apakah ada efek samping yang bisa ditoleransi atau tidak. Sebuah riset yang diterbitkan University of Wollongong, Australia pada 2019 menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup keseluruhan rata-rata dari terapi imuno onkologi mencapai 30 bulan.

DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, FISR, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam kata sambutannya pada diskusi #LUNGTalk hari ini mengatakan, meskipun di tengah pandemi seperti saat ini, para ahli medis berharap para pasien kanker paru tetap mendapatkan akses pengobatan yang terbaik guna menghindari komplikasi lebih lanjut. 

Kendati demikian, tidak semua pasien kanker paru mendapatkan akses pengobatan yang dibutuhkan. Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum dan Pendiri Cancer Information and Support Center (CISC) menyatakan, melawan kanker bukanlah hal yang mudah. Pasien tidak bisa sendirian. Pada kenyataannya, beban pasien kanker paru bukan hanya tentang masalah fisik tetapi juga beban psikososial, dan ekonomi  yang berdampak pada kondisi pasien, keluarga maupun negara. 

"Program BPJS Kesehatan sangat membantu pasien kanker namun diharapkan agar akses pelayanan kanker dapat terus ditingkatkan. Sebab, apabila  akses pelayanan kesehatan terganggu, seperti waktu tunggu yang lama ataupun ketidaktersediaan obat yang dijamin maupun yang tidak dijamin BPJS khawatir dapat  memperburuk kesehatan pasien. Apalagi pasien kanker paru mayoritas terdiagnosis saat sudah stadium lanjut. Oleh karena itu, penting bagi semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama  secara berkesinambungan dalam upaya promotif, preventif, diagnosis, kuratif, rehabilitatif dan paliatif untuk penanggulangan kanker yang lebih baik,” jelasnya.

Willem Laoh, Perwakilan CISC yang juga penyintas kanker paru turut membagikan pengalamannya. "Selama menjadi penyintas kanker paru, saya merasakan bahwa akses pengobatan yang baik sangatlah penting demi mendapatkan harapan hidup yang lebih baik. Untuk itu, saya berharap kehadiran perkembangan inovasi pengobatan kanker paru dapat terus didukung oleh semua pihak agar semua pasien mendapatkan pengobatan terbaik, tanpa kecuali," tandas Willem. 

Masih dalam semangat Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia di bulan November 2020, melalui kolaborasi dengan beberapa public figure dan juga penggiat  kanker, IPKP akan menyelenggarakan kegiatan bersepeda bersama bertajuk #gowesPARUSEHAT. Melalui kegiatan olahraga yang erat kaitannya dengan kesehatan paru-paru.

“Melalui kegiatan bersepeda bersama #gowesPARUSEHAT, kami juga melakukan kampanye dukungan melalui Kitabisa.com, dimana dukungan yang diterima akan ditujukan bagi penyintas kanker paru yang membutuhkan melalui Rumah singgah CISC,” tutup Aryanthi Baramuli Putri. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post