Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

570 Pelajar Asing Jadi Duta Budaya Indonesia

Ilustrasi: Pelajar menampilkan tari tradisional Indonesia. (Pixabay/masbebet)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjidr Effendy melantik 570 pelajar asing untuk menjadi duta budaya Indonesia, setelah belajar budaya dan bahasa Indonesia selama satu tahun di sejumlah perguruan tinggi Indonesia.

JAKARTA-KABARE.ID: Sebanyak 570 peserta Darmasiswa Republik Indonesia yang berasal dari 89 negara siap kembali ke negara masing-masing untuk menjadi duta budaya Indonesia, setelah belajar satu tahun di Indonesia.

“Saya berterima kasih kepada anda semua yang telah memutuskan untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia dengan memanfaatkan beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Malam ini saya angkat anda semua menjadi duta budaya Indonesia untuk selama-lamanya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melalui siaran pers di Jakarta, Minggu (6/5).

Darmasiswa adalah program pemberian beasiswa non-gelar selama satu tahun oleh pemerintah kepada mahasiswa asing dari negara-negara sahabat untuk belajar di perguruan tinggi Indonesia. Program ini menjadi diplomasi lunak melalui hubungan antarwarga dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Peserta Darmasiswa diajak untuk berinteraksi sekaligus mengenal budaya Indonesia melalui masyarakat lokal. Mereka belajar membatik, memasak makanan khas daerah, dan berbagi ilmu, seperti mengajarkan bahasa mereka kepada masyarakat lokal.

Sejak dimulai tahun 1974, program Darmasiswa telah diikuti oleh 7.852 peserta dari 121 negara sahabat. Tahun akademik 2017/2018, peserta Darmasiswa disebar ke 55 perguruan tinggi Indonesia untuk belajar seni budaya dan bahasa Indonesia.

Matina Gavalirova, salah satu peserta Darmasiswa dari Slovakia yang belajar di Univeritas Pendidikan Indonesia Bandung mengaku terkesima dengan cara belajar bahasa dan budaya melalui praktik di masyarakat. Ia dan para peserta lainnya tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga belajar bahasa daerah.

Menurutnya, penting belajar bahasa daerah untuk mendapat diskon saat berbelanja di pasar tradisional. “Saya percaya, mengenal bahasa dan budaya yang baru memberikan pemahaman yang lebih dalam memandang perbedaan dan meningkatkan toleransi,” kata Matina. (ant)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post